Buluh Mudo Komposer Terbaik pada Malam Puncak Parak Cipta Musik DKR 2024

Pekanbaru1115 Dilihat

PEKANBARU, SINKAP.info Secara resmi, kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Raja Yoserizal Zen yang diwakili oleh Kabid Seni dan Bahasa, Hj Jahrona membuka acara malam puncak Rarak Cipta Musik 2024 yang digelar oleh Dewan Kesenian Riau bertempat dipanggung Otong Lenon Taman Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Riau. Sabtu (22/6/24).

Dimana kegiatan Pagelaran Rarak Cipta Musik 2024 dihadiri komposer asal negeri Jiran Malaysia, Ruslan Madun, perwakilan Lembaga Adat Melayu Riau, Datuk Tarlaili, Ketua Umum Dewan Kesenian Riau, Taufik Hidayat, Kabid Bahasa dan Kesenian Dinas Kebudayaan Riau, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unilak, Dr Fauzi serta puluhan undangan serta seniman.

Setelah penampilan 5 Komposer terpilih tersebut, seperti Sutra Harmiko (Limuno) Kuantan Singingi, Rakis Fadli (Buloh Mudo) Pekanbaru, Junaidi (Tengkah Zapin) Pekanbaru, Febri Hengki (Sendayung) Kampar, M. Sukron (Rumah Seni Balai Proco) Rokan Hulu, akhirnya dewan juri, seperti, Rino Dezapaty (Pimpinan Riau Rytem Chambers), Epi Martison (Akademisi Lulusan IKJ), dan Anggara Satria (komposer, praktisi dan akademisi seni).

5 komposer yang tampil di Panggung Otong Lenon Taman Budaya dinilai secara langsung oleh dewan juri seperti, Rino Dezapaty (Pimpinan Riau Rytem Chambers), Epi Martison (Akademisi Lulusan IKJ), dan Anggara Satria (komposer, praktisi dan akademisi seni). memutuskan Buluh Mudo dari Pekanbaru menjadi komposer terbaik, menyusui Tangkah Zapin dari Pekanbaru dan Limuno dari Kuantan Sengingi. Sedangkan Sendayung dari Kampar dan Balai Proco dari Rokan Hulu menjadi komposer non rangking,” terang Rino Dezapaty mewakili 3 dewan juri di ajang Rarak Cipta Musik Dewan Kesenian Riau 2024.

Menurutnya, para pemenang di ajang Rarak Cipta Musik 2024 ini mempersiapkan tema untuk komposisi musik dengan baik melalui proses riset dan proses latihan. Kemudian mentransformasi pikiran komponis kepada musisinya dengan baik.

Ketua Umum DKR, Taufik Hidayat, mengatakan bahwa Rarak Cipta Musik yang menjadi handalan program DKR sejak tahun 2002, pada saat ini sudah banyak melahirkan komposer dan musisi baru di Riau.

Rarak Cipta Musik ini, jelas seniman multi talenta Riau yang biasa disapa Atan Lasak itu, secara harfiah berarti mengarak. Jadi Dewan Kesenian Riau mengarak dan menjaga musik tradisi agar tetap eksis dan tegak berdiri agar tidak tergilas oleh musik musik yang berbasis teknologi.

“Tahun sebelumnya bertemakan Nandung. Tahun 2024 ini mengambil tema Ritus atau ritual,” terangnya.

Pada zaman serba teknologi ini, tambahnya, keberadaannya semakin sangat diperlukan. Sebab, dengan kemajuan teknologi secara instan siapa saja bisa menciptakan lagu meskipun yang bersangkutan sama sekali tidak tahu tentang musik.

“Dengan mengunakan aplikasi AI, lagu dalam hitungan menit bisa terciptakan, bahkan jika tidak punya lirik AI juga bisa menyediakan lirik. Namun lagu yang lahir dari kemajuan teknologi ini tidak punya nilai, tidak dapat rasanya (feel nya) karena tergantung algoritma mereka. Aplikasi ini bisa menjadi mesin “pembunuh” bagi musisi dan bisa saja mempengaruhi seniman atau musisi tradisi,” terangnya.

Kemajuan teknologi ini, jelas Taufik, tak bisa ditolak dan jangan dijadikan musuh namun harus dijadikan teman untuk memancing gairah berkesenian. Sebab, algoritma aplikasi AI tidak ada kearifan lokal dan ini hanya bisa ditemukan dalam Rarak Cipta Musik.

Menurut Taufik, bahwa Rarak Cipta Musik adalah salah satu penangkal terbunuhnya musisi tradisi. Bahkan, Taufik yakin betul, dengan adanya kemajuan teknologi ini musisi tradisi semakin punya tempat untuk berkembang. Apalagi bunyi dengan kearifan lokal lahir dari budaya yang peka terhadap lingkungan.

“Berbicara soal seni budaya, terutama musik, kita juga bicara soal lingkungan dengan kearifan lokal. Tinggal bagaimana kita mengemasnya dari tradisi menjadi industri. Lewat Rarak Cipta Musik ini DKR berupaya mengemas sesuatu tradisi menjadi industri,” pungkas Taufik.

SINKAP.info | Laporan: Wan

Komentar