Tragedi Sepak Bola Kanjuruhan di Malang Menjadi Sejarah Baru kemalangan Persepakbolaan Internasional

Opini, Sports138 Dilihat

Oleh: Jannus TH Siahaan

Kericuhan pecah di Stadion Kanjuruhan, Malang, usai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya dalam lanjutan Liga 1, Sabtu (1/10) malam WIB. Suporter tuan rumah yang kecewa kemudian masuk ke lapangan.

Situasi yang tidak kondusif memaksa petugas keamanan untuk bertindak. Alhasil, kericuhan dan kepanikan terjadi, terutama di area tribun Stadion Kanjuruhan.

Banyak korban berjatuhan, baik karena sesak napas maupun karena terinjak-injak. Di beberapa rekaman video amatir yang beredar terlihat di ruangan dalam stadion hingga pintu keluar stadion, banyak korban yang tergeletak, dan beberapa di antaranya meregang nyawa.

Ketika wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir, menurut pantauan, suasana masih tergolong kondusif. Hanya saja para pemain Persebaya Surabaya memang langsung berlari ke dalam ruang ganti sebagai langkah antisipasi terhadap sesuatu yang tidak diinginkan.

Sementara itu, para pemain Arema FC berjalan ke tengah lapangan seperti yang biasa mereka lakukan. Mereka bermaksud memberikan penghormatan kepada Aremania yang telah memberikan dukungan penuh di Stadion Kanjuruhan meski pada akhirnya Singo Edan harus kalah.

Beberapa Aremania yang masuk lapangan tersebut tidak melakukan aksi yang anarkis tapi justru menghampiri para pemain Singo Edan. Ada yang memeluk Sergio Silva, ada pula yang berbicara dengan kapten tim, Ahmad Alfarizi.

Namun, secara tiba-tiba seorang Aremania masuk lapangan sambil berlari membawa bendera Persebaya Surabaya yang dicoret. Aksi itu diikuti oleh Aremania lainnya yang masuk ke dalam lapangan dan jumlahnya semakin banyak.

Langkah tersebut justru mengawali insiden yang lebih besar. Banyak Aremania akhirnya menjadi korban. Beberapa gas air mata dengan terpaksa akhirnya ikut ditembakkan ke arah tribun, yang membuat kepanikan makin besar.

Informasi mutakhir, terdapat sekitar 187 korban meninggal dan tak sedikit yang dirawat di rumah sakit. Tragis memang. Konon, jumlah korban menjadi jumlah terbanyak kedua sepanjang sejarah persepakbolaan dunia.

Di tanggal Pancasila disaktikan, tragedi lain terjadi di tahun ini yaitu di Lapangan Kanjuruhan Malang. Jika kembali ke masa tahun 1965 dan 1966, beberapa analisis psikologi kultural pernah ditulis terkait pembunuhan masif terhadap kader PKI.

Ada semacam budaya “running amok” di Indonesia, kata beberapa pakar, yang menyebabkan peristiwa 1 Oktober atau Gestok diakhiri dengan cerita pilu berkategori tragis. Bahkan sebagian pihak menggambarkan reaksi publik saat itu dengan istilah “extermination” alias pemusnahan.

Tentu kali ini kasusnya sangat berbeda. Kasus ini terjadi di ranah olahraga. Hanya saja, ada ranah psikologi massa yang gagal dikelola oleh para pihak. Rasa kecewa atas kekalahan dan kebencian mendalam terhadap lawan, jika dipelihara di dalam batin banyak orang dan tidak dikelola dengan aturan main yang jelas, ujungnya bisa tak baik. Peristiwa malang di Kota Malang ni menjadi contoh nyatanya

Ssbagaimana dikabarkan banyak media, pertandingan kali ini diawali dengan dua surat kepolisian yang ternyata kurang ditanggapi oleh manajemen pertandingan, terutama soal waktu pelaksanaan pertandingan.

Insting polisi nampaknya tak meleset. Perpaduan kekecewaan dan kebencian dipelihara secara kolektif dan memuncak di waktu yang tepat, ujungnya ternyata fatal. Sekitar 187 nyawa melayang sia-sia. Hari kesaktian Pancasila di tahun ini menjadi hari tragis bagi dunia persepakbolaan nasional, bahkan dunia.

Oleh karena itu, investigasi konprehensif perlu dilakukan oleh otoritas terkait, terutama oleh institusi Kepolisian. Terutama terkait dengan kepatuhan penyelenggara pada kaidah-kaidah penyelenggaran pertandingan. Karena muncul fakta soal jumlah tiket yang beredar ternyata disinyalir melebihi kapasitas stadion.

Institusi yang mewadahi Sepabola Nasional harus menjelaskan kepada publik mengapa penyelenggaraan pertangdingan sekelas Arema vs Persebaya bisa dilangsungkan dalam tata kelola yang tidak sesuai dengan aturan main yang ada. Bahkan jika perlu, federasi perlu diminta pertanggungjawaban sesuai aturan main yang ada, baik secara yuridis formal maupun secara legal organisasional, alias tidak sekedar permintaan maaf, lalu mencari kambing hitam.

Kedua, investigasi mendalam terkait kemungkinan reaksi aparat yang tidak selayaknya alias berlebihan. Publik perlu mengetahui apakah reaksi aparat pengamanan yang menggunakan gas air mata sudah memenuhi kaidah pengamanan yang semestinya. Karena, sebagaimana informasi yang beredar, korban bertumbangan dipicu oleh chaos yang diawali oleh reaksi berupa penghindaran massa atas efek gas air mata.

Investigasi ini sangat penting sifatnya. Karena hal-hal yang semula dianggap sepele oleh penyelenggara dan aparat pengamanan acara, nyatanya sangat berperan besar dalam memicu chaos dan membuat banyaknya korban berjatuhan.

Sebagaimana dikatakan pakar berasal dari Inggris bernama Richard Dawkins, “It is unfortunately named, for ‘chaos’ implies randomness. Chaos in the technical sense is not random at all. It is completely determined, but it depends hugely, in strangely hard to predict ways, on tiny differences in initial conditions”.

Dengan kata lain, ketika ada penyimpangan sekecil apapun yang keluar dari norma, akan mengundang (atau memulai) sebuah chaos.
Jadi penyimpangan sekecil apapun yang keluar dari norma, kebiasaan, dan aturan formal permainan, sangat berpotensi untuk mengundang mulainya chaos yang menjadi titik awal korban bertumbangan. Ini semacam “ripple effect”, ketika batu kita lempar ke air, maka gelombang yang awalnya timbul kecil, semakin lama akan semakin menyebar dan membesar

Apalagi, laga kali ini bukan laga sembarang, tapi laga yang penuh dengan ketegangan psikologis dan historis. Dibutuhkan sistem pengelolaan pertandingan yang sangat profesional di satu sisi dan sistem pengamanan yang superketat di sisi lain, untuk mengindari terjadinya chaos.

Dan terakhir, saya secara personal ingin menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga semua korban insiden ini . Tidak mudah menerima fakta bahwa nyawa salah satu anggota keluarga kita justru direnggut oleh insiden chaotis yang terjadi pada laga di mana tim kesayangan nya yang bermain di lapangan hijau. Karena itu, saya ikut merasakan kesedihan yang dirasakan keluarga korban.

SINKAP.info