Beranda TEKNOLOGI Aplikasi Zoom Webinar Jadi Populer, Solusi Meeting Sejak Pandemi Covid-19

Aplikasi Zoom Webinar Jadi Populer, Solusi Meeting Sejak Pandemi Covid-19

418

TEKNOLOGI, Sinkap.info – Sejak pemerintah mengimbau masyarakat untuk melakukan aktivitas dari rumah, banyak orang yang menggunakan aplikasi video conference, seperti Zoom sebagai media untuk berkoordinasi dari jarak jauh. Pasalnya, aplikasi ini dapat menjadi sarana tatap muka untuk berbagai keperluan, seperti meeting antar rekan kerja dan pembelajaran siswa sekolah.

Aplikasi Zoom mendadak populer di tengah pandemi COVID-19 dan kebijakan bekerja dari rumah (work from home). Aplikasi itu dinilai sangat mudah digunakan untuk melakukan video conference bagi pekerja maupun pelajar.

Sayangnya, banyak pengguna Zoom yang menerima fenomena Zoom-Bombing beberapa waktu lalu. Modusnya, ada akun Zoom yang tidak dikenal masuk ke sebuah sesi video conference. Lantas, akun itu akan memutar konten video porno sehingga akan menimbulkan rasa malu bagi peserta video conference terutama host atau yang menggelar sesi tersebut.

FBI dari Amerika Serikat sudah mengeluarkan peringatan bagi pengguna Zoom. FBI telah menerima banyak aduan aksi Zoom-Bombing yang mengunggah video porno maupun ujaran kebencian. FBI mengimbau setiap pengguna untuk mengecek fitur privasi atau keamanan di aplikasi. Misalnya, tidak memberikan izin pengguna untuk membagikan konten tanpa seizin host.

Kemudian tidak membagikan tautan untuk masuk atau bergabung ke sesi video conference di media sosial yang bisa dilihat publik. FBI juga menyatakan makin banyak file berupa malware maupun situs yang terindikasi berbahaya dengan menggunakan kata Zoom pada nama file atau situs tersebut. Jadi pengguna internet diharapkan tidak asal mengklik tautan atau alamat situs mencurigakan ini seperti dikutip Newsweek.

MENARIK DIBACA:  Galang Kekuatan Melawan Covid 19, Kadiskes MoU Bersama Srikandi PP

FBI mulai meberikan peringatan kepada pengguna Zoom setelah dua sekolah di kota tersebut mengalami Zoom-Bombing saat menggelar pembelajaran jarak jauh dengan aplikasi Zoom. Pelaku yang tidak diketahui mengunggah foto Swastika atau logo NAZI dan video porno. FBI melihat Zoom-Bombing mulai menjadi sebuah fenomena yang dilakukan oleh peretas maupun pengguna internet yang jahil setelah menemukan tautan video conference Zoom.

Dilaporkan bahwa di tahun 2019 seorang peretas pernah membobol apliaksi webcam di sebuah laptop atau komputer melalui aplikasi video conference.

Di sini peretas bisa diam-diam mengawasi kegiatan korbannya. Amankah untuk video conference? Bahkan Presiden Joko Widodo pun juga mengoptimalkan media video conference ini untuk melakukan koordinasi dengan para pejabat pemerintah lainnya.

Seperti yang dilakukan pada Senin (16/3/2020) lalu, Presiden Joko Widodo menggelar rapat dengan sejumlah menteri melalui video conference. Rapat dengan para pejabat negara dalam konferensi video tersebut dilakukan demi mencegah penyebaran virus Covid-19.

Namun apakah aplikasi Zoom ini bisa dinilai aman untuk digunakan sebagai sarana melakukan meeting oleh pejabat pemerintah? Saat dihubungi KompasTekno, pekan lalu, pakar keamanan siber Alfons Tanujaya mengatakan bahwa para pembuat aplikasi sebenarnya sudah menerapkan perlindungan keamanan di dalam produk-produknya.

“Pada umumnya sudah menjadi perhatian aplikasi,apalagi yang berbayar seperti Zoom, Go To Meeting, Blue Jeans, Microsoft team, bahkan aplikasi yang gratisan seperti Skype, Google Hangouts dan Cisco Webex juga dapat diandalkan,” ujar Alfons.

MENARIK DIBACA:  Smartphone Rp 1 Jutaan Paling Recommended Buat Kamu

Karena itu, Alfons beranggapan bahwa aplikasi Zoom yang belakangan populer untuk video conferencing pun masih aman dan efisien. Sebab, ada mekanisme proteksi yang sulit ditembus.

“Tergantung keperluannya, kalau hanya untuk meeting koordinasi yang nantinya juga akan terbuka untuk umum, rasanya Zoom cukup efisien dan memiliki enkripsi yang baik dan sulit di-decrypt, sekalipun bisa disadap,” tuturnya.

Sementara, untuk keperluan yang menyangkut hal rahasia, apalagi rahasia negara, Alfons menyarankan agar lebih berhati-hati dan tidak sembarangan menggunakan aplikasi dari negara lain.

“Kalau untuk VVIP seperti Presiden, Menteri Pertahanan, BIN atau data Top Secret memang lain treatment-nya,” ujar Alfons.

Tiga perhatian untuk konferensi rahasia Lebih lanjut, Alfons menjelaskan setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan apabila ingin melakukan video conference untuk membahas topik penting yang dianggap sebagai rahasia, yakni sebagai berikut.

  1. Saat video conference dilakukan secara real time, pastikan datanya tersalur melalui jalur internet yang sudah diamankan dengan enkripsi.
  2. Untuk menyimpan percakapan video, tidak disarankan disimpan di komputer, melainkan pada server yang terlindung dan diamankan dengan multi factor authentication
  3. Data komunikasi melalui kabel tembaga masih rawan disadap, data radiasi layar video conference secara teknis masih bisa disadap dengan alat khusus dari jarak yang cukup jauh mencapai ratusan meter.
SINKAP.info | Sumber: Tempo
Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here