Pesona Guilin Memikat Dunia, Wisata Pedesaan Hadirkan Pengalaman Budaya dan Alam Tak Terlupakan Bersama

GLOBAL47 Dilihat

GUILIN, SINKAP.info – Guilin, salah satu destinasi wisata paling terkenal di China, terus mengembangkan konsep wisata pedesaan yang menggabungkan keindahan alam, budaya lokal, dan kehidupan masyarakat dalam satu pengalaman yang lebih mendalam bagi wisatawan.

Melalui program Village Voyage, kawasan Longsheng dan Yangshuo diperkenalkan sebagai destinasi yang tidak hanya menawarkan panorama pegunungan karst yang mendunia, tetapi juga kesempatan bagi wisatawan untuk merasakan langsung kehidupan masyarakat desa, mulai dari bertani, menikmati kuliner tradisional, hingga mengenal warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun.

Dalam musim terbaru Village Voyage, pembawa acara CGTN asal Amerika Serikat, Julian Waghann, bersama wisatawan asal Filipina, Eliza Arce, menjelajahi sejumlah desa di Guilin untuk melihat bagaimana alam dan tradisi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.

Terasering Longji Jadi Simbol Harmoni Manusia dan Alam

Salah satu destinasi utama yang dikunjungi adalah Terasering Sawah Longji di wilayah Longsheng, Guangxi. Lanskap pertanian yang dibangun selama ratusan tahun tersebut menjadi simbol keharmonisan antara manusia dan alam.

Bagi warga setempat, sawah bertingkat bukan sekadar objek wisata, melainkan sumber kehidupan yang terus dijaga keberlangsungannya.

MENARIK DIBACA:  CPF Pamerkan Inovasi Pangan Global Berteknologi Tinggi di THAIFEX Asia 2026 Bangkok

Salah seorang warga, Liao Yanmei, mengatakan masyarakat terus berupaya melestarikan terasering sebagai warisan budaya sekaligus sumber penghidupan bagi generasi mendatang.

Kunjungan tersebut juga bertepatan dengan Festival Shuyang, salah satu tradisi pertanian terbesar di Longsheng. Dalam festival itu, wisatawan diajak mengikuti berbagai ritual khas, seperti melempar bibit padi hingga pawai obor di tengah hamparan sawah saat malam hari.

Eliza Arce mengaku terkesan karena budaya terasering di Guilin mengingatkannya pada Banaue Rice Terraces di Filipina.

Menurutnya, kedua kawasan memiliki kesamaan dalam cara masyarakat memanfaatkan alam untuk bertani sekaligus menjaga warisan budaya.

Desa Rambut Panjang Suku Red Yao

Perjalanan kemudian berlanjut ke Desa Huangluo Yao, yang dikenal sebagai kampung perempuan berambut panjang dari etnis Red Yao.

Tradisi memelihara rambut panjang telah berlangsung selama berabad-abad dengan memanfaatkan air cucian beras yang difermentasi serta berbagai tanaman herbal sebagai bahan perawatan alami.

Duta budaya setempat, Haili, menjelaskan rambut panjang bagi masyarakat Red Yao melambangkan umur panjang, kesehatan, dan kemakmuran.

Selain dikenal melalui tradisi tersebut, masyarakat Red Yao juga mempertahankan kerajinan pakaian tradisional yang dibuat menggunakan teknik tenun, batik, pewarna alami, serta sulaman tangan.

MENARIK DIBACA:  CBS–Experian Teken MoU Kredit Lintas Negara, Skor Finansial Bikin Geger

Menurut perajin Pan Jifeng, pembuatan satu set pakaian adat dapat memakan waktu hingga satu tahun karena seluruh proses dikerjakan secara manual.

Wisata Aktif di Yangshuo

Selain Longsheng, kawasan Yangshuo kini berkembang menjadi destinasi wisata berbasis aktivitas alam.

Wisatawan dapat menikmati berbagai kegiatan seperti bersepeda menyusuri pedesaan, mendaki kawasan pegunungan karst, menyusuri sungai menggunakan rakit bambu, hingga menikmati petualangan di tebing.

Didukung infrastruktur transportasi yang semakin baik serta fasilitas wisata yang terus berkembang, Yangshuo menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara.

Perpaduan Alam dan Budaya

Melalui konsep wisata pedesaan yang lebih interaktif, Guilin menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan wisata konvensional.

Wisatawan tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat, mengenal tradisi lokal, mengikuti festival budaya, hingga mempelajari cara hidup masyarakat yang telah berkembang selaras dengan alam selama ratusan tahun.

Konsep tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi Guilin sebagai salah satu destinasi wisata pedesaan unggulan di China yang mengedepankan pelestarian budaya, keberlanjutan lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat lokal.