Meranti Jadi Fokus Eksplorasi Migas, Produksi WK Malacca Strait Ditargetkan 5.800 BOPD

MERANTI, SINKAP.info – Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi fokus utama kegiatan eksplorasi dan pengembangan di Wilayah Kerja (WK) Malacca Strait. Pada 2026, produksi minyak di wilayah tersebut ditargetkan meningkat hingga 5.800 barel per hari (BOPD) seiring rencana pengeboran sumur baru dan pengembangan lapangan eksisting.

Sepanjang 2025, produksi minyak WK Malacca Strait tercatat rata-rata 4.655 BOPD, masih di bawah target SKK Migas sekitar 6.000 BOPD. Sementara itu, produksi gas berada di kisaran 2,3 MMSCFD, dengan realisasi penyaluran ke PLN mencapai 0,55 MMSCFD atau melampaui target yang ditetapkan.

Capaian dan rencana tersebut dibahas dalam silaturahmi serta koordinasi Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) 2026 antara Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, SKK Migas Wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), Kamis (29/1/2026), di Kantor Dinas PUPR Kepulauan Meranti.

PT Imbang Tata Alam selaku operator WK Malacca Strait menjelaskan, belum optimalnya produksi minyak disebabkan kendala teknis berupa kepasiran sumur. Kondisi tersebut menyebabkan perforasi tertutup saat pemompaan sehingga membatasi laju produksi, meskipun potensi cadangan migas dinilai masih baik.

MENARIK DIBACA:  Bhayangkari Polsek TTB Bagikan Takjil ke Pengguna Jalan

Meski demikian, hasil uji sumur eksplorasi TB North West menunjukkan prospek positif dengan potensi produksi sekitar 190 hingga 200 barel per hari. Sumur ini direncanakan akan dikembangkan menjadi tiga hingga lima sumur lanjutan.

Pada 2026, PT Imbang Tata Alam juga merencanakan pengeboran sumur eksplorasi baru, di antaranya CN-2, CN-3, MSWK, dan WK-1, serta pengembangan lima sumur di Lapangan TB. Kepulauan Meranti diprioritaskan karena dinilai memiliki potensi cadangan terbesar di WK Malacca Strait. Sementara target produksi gas ditetapkan di kisaran 0,4 MMSCFD.

Selain aspek produksi, pembahasan turut menyoroti Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang difokuskan di wilayah Ring 1, yakni Kecamatan Merbau dan Tebingtinggi Barat. Program tersebut mencakup sektor pendidikan, ekonomi, lingkungan, kesehatan, tata kelola, dan kelembagaan dengan pendekatan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal dan konservasi lingkungan.

MENARIK DIBACA:  Kedatangan Wisatawan di Kota Sagu Jelang Imlek 2571 Meningkat Drastis

Asisten II Pemprov Riau, Helmi D, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan KKKS agar manfaat kegiatan hulu migas dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia menilai pelaksanaan PPM yang dirancang telah sejalan dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek ekosistem laut dan darat.

Sementara itu, Bupati Kepulauan Meranti AKBP (Purn) H. Asmar menegaskan bahwa peningkatan produksi migas di WK Malacca Strait harus memberikan dampak nyata bagi daerah.

“Kami mendukung peningkatan produksi migas nasional, namun kami juga ingin memastikan kegiatan eksplorasi dan pengembangan di Kepulauan Meranti memberi manfaat langsung bagi masyarakat, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan,” tegas Asmar.

Ia menambahkan, Pemkab Kepulauan Meranti membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan SKK Migas dan KKKS agar eksplorasi energi berjalan seiring dengan prinsip pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.