SHANGHAI, SINKAP.info – Perusahaan-perusahaan di China semakin memfokuskan strategi bisnis pada penguatan ketahanan rantai pasok, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta ekspansi ke pasar baru untuk mendorong pertumbuhan pada 2026.
Temuan tersebut terungkap dalam Global Trade Observatory yang dirilis DP World. Survei tersebut melibatkan 292 eksekutif bidang rantai pasok dan logistik di China untuk memetakan arah strategi bisnis di tengah dinamika perdagangan global.
Hasil survei menunjukkan 58 persen responden berencana menambah jumlah pemasok guna mendiversifikasi sumber pasokan pada 2026. Langkah ini menjadi strategi utama perusahaan dalam meningkatkan ketahanan rantai pasok di tengah perubahan kebijakan perdagangan, tarif, hingga kondisi geopolitik.
Selain itu, sebanyak 38 persen perusahaan berencana memindahkan sebagian operasional lebih dekat ke pasar tujuan (near-shoring), 36 persen menerapkan strategi friend-shoring dengan memperkuat kerja sama bersama negara mitra, sementara 32 persen memilih meningkatkan persediaan barang.
DP World menilai perusahaan-perusahaan China kini tidak lagi hanya mengandalkan skala produksi dan efisiensi biaya, tetapi juga membangun sistem logistik yang lebih fleksibel melalui penambahan pemasok, jalur distribusi alternatif, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar.
Survei tersebut juga mengungkap bahwa transformasi bisnis tidak semata dipicu oleh faktor mitigasi risiko. Perusahaan turut mempertimbangkan tuntutan keberlanjutan (ESG), perkembangan teknologi, peningkatan ketahanan operasional, kebijakan perdagangan lokal, tarif internasional, hingga peluang memasuki pasar baru.
CEO dan Managing Director Asia Pacific DP World, Glen Hilton, mengatakan keunggulan perdagangan China ke depan akan ditentukan oleh kemampuan beradaptasi terhadap perubahan global.
Menurutnya, perusahaan kini membutuhkan mitra yang mampu mengintegrasikan layanan logistik secara menyeluruh, mulai dari pelabuhan, terminal, pengiriman barang, pergudangan, kepabeanan, hingga sistem digital.
“Keunggulan perdagangan China berikutnya akan lahir dari ketahanan dan kemampuan beradaptasi, bukan hanya skala bisnis. Perusahaan membutuhkan sistem yang mampu menjaga kelancaran distribusi meski rute, aturan, dan permintaan pasar terus berubah,” ujarnya.
AI Jadi Prioritas Pertumbuhan
Teknologi menjadi faktor utama yang dipandang mampu mendorong pertumbuhan bisnis dalam satu hingga tiga tahun mendatang.
Sebanyak 50 persen responden menyebut implementasi AI sebagai prioritas utama, disusul digitalisasi operasional sebesar 44 persen, meningkatnya permintaan dari pasar dan konsumen baru 43 persen, serta pengembangan rantai nilai baru 34 persen.
DP World menilai tren tersebut sejalan dengan arah kebijakan ekonomi China yang menempatkan AI dan teknologi canggih sebagai pilar pengembangan produktivitas nasional.
Sebagai perusahaan penyedia solusi rantai pasok global yang menangani sekitar 10 persen perdagangan peti kemas dunia, DP World menyebut kebutuhan digitalisasi semakin terasa di berbagai sektor, mulai dari perdagangan elektronik, otomotif, fesyen, makanan dan minuman, kesehatan, hingga teknologi.
Melalui jaringan logistik global yang dipadukan dengan layanan pergudangan, kepabeanan, pengiriman barang, dan sistem pemantauan digital, perusahaan berupaya membantu pelaku usaha meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga kelancaran distribusi lintas negara.
Hasil survei tersebut menunjukkan perusahaan-perusahaan China kini mengedepankan strategi jangka panjang yang menitikberatkan pada ketahanan operasional, pemanfaatan teknologi, serta perluasan akses pasar sebagai fondasi pertumbuhan di tengah perubahan lanskap perdagangan global.







