Masih Bergantung Mesin Impor, Indonesia Habiskan US$36,6 Miliar Sepanjang 2025

Ekonomi, NASIONAL40 Dilihat

JAKARTA, SINKAP.info — Ketergantungan industri nasional terhadap mesin dan peralatan impor masih tinggi. Sepanjang 2025, Indonesia tercatat mengimpor mesin dan peralatan mekanis senilai US$36,6 miliar, meningkat 23,09 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Data tersebut tertuang dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) bertajuk Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia Desember 2025. Secara keseluruhan, nilai impor Indonesia pada periode Januari–Desember 2025 mencapai US$241,86 miliar, naik 2,83 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

BPS mencatat, sektor nonmigas masih mendominasi struktur impor Indonesia. Golongan mesin dan peralatan mekanis menjadi komoditas impor terbesar sepanjang 2025, melampaui barang-barang nonmigas lainnya.

Mesin dan peralatan mekanis yang diimpor umumnya digunakan oleh sektor industri manufaktur, makanan dan minuman, elektronik, hingga industri berat. Jenisnya meliputi mesin produksi, peralatan otomasi, alat berat, serta mesin khusus yang dirancang untuk kebutuhan industri tertentu.

China Jadi Pemasok Utama

Berdasarkan negara asal, China masih menjadi pemasok utama mesin dan peralatan mekanis ke Indonesia. Posisi berikutnya ditempati oleh Jepang, Korea Selatan, dan Jerman.

MENARIK DIBACA:  2.802 Personel Amankan Pelantikan Kepala Daerah di Istana Kepresidenan

Selain mesin mekanis, impor mesin dan perlengkapan elektrik juga mengalami lonjakan signifikan. Nilainya meningkat 43,24 persen, dari US$27,1 miliar pada 2024 menjadi US$31,8 miliar pada 2025. Kenaikan ini mempertegas tingginya ketergantungan industri nasional terhadap teknologi dan peralatan listrik dari luar negeri.

Sementara itu, golongan kendaraan dan bagiannya menempati posisi ketiga sebagai barang impor nonmigas terbesar, dengan nilai mencapai US$10,9 miliar sepanjang 2025.

Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang mengalami penurunan impor. Plastik dan barang dari plastik tercatat turun 8,23 persen menjadi US$10,4 miliar, mengindikasikan adanya upaya pengurangan impor plastik. Sedangkan besi dan baja berada di posisi kelima impor nonmigas terbesar, dengan nilai US$9,5 miliar, naik 4,17 persen dibanding tahun sebelumnya.

Tantangan Industri Nasional

Tingginya impor mesin mencerminkan bahwa industri Indonesia masih belum mampu memproduksi mesin dan peralatan industri secara mandiri. Meski permintaan pasar domestik tinggi, kemampuan manufaktur mesin di dalam negeri dinilai belum memadai.

MENARIK DIBACA:  Percepat Perizinan Berusaha, Kementerian ATR/BPN Usulkan Digitalisasi 300 RDTR pada 2026

Kementerian Perindustrian Republik Indonesia menyebutkan, ekosistem industri nasional yang belum sepenuhnya mendukung, ditambah regulasi yang belum mendorong inovasi teknologi, membuat pelaku usaha memilih melakukan riset dan pengembangan mesin di luar negeri.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah tingginya biaya pengembangan teknologi, waktu riset yang panjang, serta risiko kegagalan inovasi yang relatif besar.

Solusi: Indonesia Manufacturing Center

Sebagai upaya mengurangi ketergantungan tersebut, Kementerian Perindustrian menggagas pendirian Indonesia Manufacturing Center (IMC) di Purwakarta. Fasilitas ini dirancang sebagai pusat pembuatan mesin industri dalam negeri.

IMC akan menjadi basis program Machine Making Machine, yang bertujuan memperkuat kemampuan nasional dalam merancang, memproduksi, dan mengembangkan mesin industri secara mandiri. Program ini mengusung konsep kolaborasi pentahelix, melibatkan pemerintah, pelaku industri, lembaga riset, akademisi, serta komunitas lokal.

Pemerintah berharap kehadiran IMC dapat menjadi langkah strategis untuk mendorong substitusi impor, memperkuat daya saing industri nasional, dan menciptakan kemandirian teknologi manufaktur di masa depan.