Beranda NASIONAL

Pengamat Energi Kupas Potensi Ladang Minyak Terbesar di Blok Rokan

390
Foto: Istimewa - Source: Limapagi

JAKARTA, SINKAP.infoDirektur Executive Energy Watch Mamit Setiawan menilai dana yang digelontorkan PT Pertamina (Persero) dalam mengambil alih ladang minyak Blok Rokan setimpal dengan potensi minyak bumi yang terkandung.

Ia menyebut Blok Rokan diperkirakan memiliki cadangan minyak sekitar 1,5 miliar-2 miliar barel. Cadangan itu setimpal dengan harga US$70 miliar atau sekitar Rp1.008 triliun yang dikeluarkan Pertamina untuk mengelola wilayah kerja minyak dan gas Rokan selama 20 tahun ke depan.

“Saya melihatnya masih cukup worth it karena informasi potensi di sana masih 1,5 miliar-2 miliar barel dan potensi masih cukup besar, tinggal bagaimana dioptimalisasi sama PHR (Pertamina Hulu Rokan),” katanya dilansir dari CNNIndonesia.com, Selasa (10/8).

Mamit mengatakan posisi Blok Rokan yang menjadi ladang minyak terbesar kedua setelah Blok Cepu, akan membantu memenuhi target lifting minyak mentah Kementerian ESDM yang mencapai 1 juta barel per hari (BOPD) pada 2030.

Ini bisa dimaksimalkan mengingat Pertamina menargetkan akan menambah titik sumur pengeboran di Blok Rokan. Sedangkan pengelola sebelumnya, Chevron, hanya mengandalkan lapangan Minas dan lapangan Duri.

Saat ini, rata-rata produksi wilayah kerja tersebut sekitar 160,5 ribu barel per hari atau sekitar 24 persen dari produksi nasional dan 41 juta kaki kubik per hari untuk gas bumi. Angka tersebut, menurut Mamit, masih bisa dinaikkan.

Kendati demikian, ia menilai masih jauh RI dari impian bebas jeratan impor minyak. Ia menyebut peran Blok Rokan masih belum signifikan dalam menekan impor minyak RI.

Pasalnya, konsumsi minyak naik dan kini berkisar antara 1,4 juta-1,5 juta barel per hari, jauh dari angka produksi saat ini yang hanya berkisar 700-an ribu barel per hari.

Lebih jauh, ia menilai transisi dari Chevron ke anak usaha PT Pertamina Hulu Rokan tidak akan jadi masalah mengingat BUMN energi tersebut mengambil alih ribuan pekerja Chevron.

Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), mengatakan PHR harus bekerja keras untuk mengembalikan produksi Rokan pada puncaknya yang sempat menyentuh 300 ribu-400 ribu barel per hari.

Setelah dieksploitasi selama 97 tahun oleh Chevron, ia menyebut Pertamina perlu memaksimalkan berbagai reservoir berkualitas rendah yang selama ini tak disentuh Chevron karena masalah kualitas dan risiko.

Berdasarkan data SKK Migas, ia menyebut target lifting 400 ribu baru dapat tercapai dalam 2035 mendatang. Bila terpenuhi, ia menyebut 25 persen-35 persen dari konsumsi minyak nasional bisa dipenuhi dari Blok Rokan.

Kendati belum dalam waktu dekat, namun ia menilai potensi yang ada di Blok Rokan cukup besar. Kalau berjalan sesuai rencana Pertamina, ia memprediksikan nilai investasi yang digelontorkan bakal dapat diraup kembali oleh BUMN.

Sebagai informasi, Blok Rokan resmi beralih tangan dari PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) ke PT Pertamina Hulu Rokan pada Senin (9/8) lalu.

Alih kelola ini dimulai dengan penandatanganan head of agreement (HoA) yang menjamin investasi CPI pada akhir masa kontrak. Hasilnya, sejak HoA ditandatangani 29 September 2020 hingga 8 Agustus 2021, telah dilakukan pemboran 103 sumur pengembangan.

Setelah mengelola Blok Rokan, maka Pertamina memiliki hak partisipasi (participating interest/PI) 100 persen, termasuk 10 persen yang akan ditawarkan ke BUMD.

Sementara, kontrak kerja sama Blok Rokan ditandatangani oleh PHR dan SKK Migas pada 9 Mei 2019 lalu dengan menggunakan skema gross split. Kontrak itu berlaku efektif sejak hari ini selama 20 tahun mendatang.

SINKAP.info | Source: CNNIndonesia

Facebook Comments