ECO Expo Asia 2026 Hadirkan 340 Peserta, Inovasi Hijau Dunia Siap Mengubah Masa Depan!

GLOBAL, TEKNOLOGI71 Dilihat

HONG KONG, SINKAP.info – Pameran teknologi dan solusi ramah lingkungan, ECO Expo Asia 2026, akan digelar pada 26–29 Oktober 2026 di AsiaWorld-Expo, Hong Kong. Mengusung tema “Connecting the World for a Sustainable Future”, ajang ini mempertemukan pelaku industri, pemerintah, dan inovator untuk mendorong pengembangan teknologi hijau serta memperluas peluang bisnis berkelanjutan.

Pameran edisi ke-21 ini diselenggarakan oleh Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) bersama Messe Frankfurt (HK) Ltd, dengan dukungan sebagai penyelenggara bersama dari Environment and Ecology Bureau Pemerintah Daerah Administratif Khusus Hong Kong.

ECO Expo Asia 2026 akan menghadirkan lebih dari 340 peserta pameran dari 16 negara dan wilayah. Sejumlah negara ASEAN, termasuk Indonesia, Laos, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam, turut berpartisipasi untuk pertama kalinya. Sekitar 200 pejabat dan perwakilan organisasi terkait dari Tiongkok Daratan, Hong Kong, negara-negara Belt and Road, serta ASEAN juga dijadwalkan menghadiri pameran tersebut.

Associate Executive Director HKTDC, Silas Chu, mengatakan transformasi hijau kini semakin menjadi bagian penting dalam strategi bisnis global. Meningkatnya permintaan terhadap solusi lingkungan dan penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and governance (ESG) dinilai membuka peluang baru bagi perusahaan.

Menurutnya, ECO Expo Asia menjadi platform untuk mempertemukan teknologi hijau, solusi inovatif, dan peluang bisnis internasional di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap upaya dekarbonisasi.

Sementara itu, Wakil Direktur Environmental Protection Department Pemerintah Hong Kong, Dr. Vanessa Au, menyatakan pameran ini mendukung agenda transformasi hijau Hong Kong, pengembangan inovasi lingkungan, serta pemanfaatan peluang ekonomi rendah karbon.

Ia juga menyampaikan bahwa untuk pertama kalinya, Environment and Ecology Bureau Hong Kong bersama Kementerian Ekologi dan Lingkungan Republik Rakyat Tiongkok akan menyelenggarakan Belt and Road Green Innovation Conference di Hong Kong selama pameran berlangsung.

Selain itu, Environmental Protection Department bersama Belt and Road Initiative International Green Development Coalition dan Chinese Academy of Sciences akan menggelar edisi kedua program pelatihan internasional Green Silk Road.

Indeks ESG Hong Kong Menguat

HKTDC juga merilis HKTDC ESG Index 2026 yang mencatat skor 67,3, meningkat dibandingkan 64,2 pada tahun sebelumnya. Angka tersebut berada di atas ambang netral 50 dan mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap posisi Hong Kong sebagai pusat bisnis ESG.

Survei tersebut menunjukkan 93 persen responden telah mengintegrasikan ESG ke dalam proses pengambilan keputusan bisnis. Sementara itu, proporsi perusahaan yang membeli atau menjual produk dan layanan terkait ESG meningkat dari 29 persen pada 2025 menjadi 46 persen pada 2026.

MENARIK DIBACA:  Lee Kum Kee Hadirkan Cita Rasa Asia di THAIFEX 2025 Lewat Inovasi Kuliner Chef Ternama

Dalam penerapan teknologi digital dan ESG, responden menilai platform rantai pasok berkelanjutan sebagai salah satu solusi paling berdampak, dengan persentase 45 persen. Berikutnya, analitik kecerdasan buatan (AI) mencapai 37 persen dan pelaporan data berbasis komputasi awan sebesar 30 persen.

Untuk pengelolaan rantai pasok, layanan sertifikasi ESG Hong Kong menjadi pilihan yang paling banyak dinilai penting oleh responden, yakni 50 persen. Selanjutnya, perangkat transparansi dan ketertelusuran mencapai 41 persen, sedangkan solusi audit ESG dan analisis risiko sebesar 36 persen.

Paviliun ASEAN dan Qinghai Hadir untuk Pertama Kalinya

ECO Expo Asia 2026 akan menghadirkan 18 paviliun, memperluas keterlibatan peserta dari berbagai wilayah. Dari Tiongkok Daratan, Provinsi Qinghai akan tampil dengan paviliun tersendiri untuk pertama kalinya.

Paviliun ASEAN juga akan memulai debutnya dengan menghadirkan 13 perusahaan teknologi hijau dari delapan negara anggota, yaitu Singapura, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Indonesia, Thailand, dan Vietnam. Resepsi jejaring ASEAN dijadwalkan berlangsung pada hari pembukaan untuk memperkuat hubungan bisnis antarnegara.

Sejumlah peserta internasional lainnya meliputi Korea Institute of Fusion Energy yang akan menampilkan teknologi lingkungan laut dan peralatan pengolahan gas buang. Negara bagian Illinois, Amerika Serikat, juga kembali berpartisipasi setelah beberapa tahun absen, sementara Kanada, Italia, dan Belanda tetap hadir.

Dari Hong Kong, Hong Kong Science and Technology Parks Corporation akan membawa 11 perusahaan rintisan untuk memperkenalkan inovasi teknologi hijau lokal. Hong Kong Pavilion juga akan menghadirkan 19 peserta yang menampilkan produk, teknologi, dan solusi ramah lingkungan.

HKTDC turut menyiapkan GoGlobal Connect Zone untuk membantu perusahaan lingkungan dari Tiongkok Daratan menjangkau pasar internasional melalui layanan profesional Hong Kong.

Empat Fokus Inovasi Teknologi Hijau

Pameran tahun ini mengangkat empat tema utama, yakni Green Energy in Motion, Frontier Green Tech, Building for a Greener City, dan From Waste to Worth.

Tema energi hijau akan menampilkan solusi energi untuk sektor maritim, transportasi darat, dan penerbangan. Salah satu peserta, EcoCeres Ltd., akan memperkenalkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel(SAF) yang diproduksi dari bahan limbah, serta Hydrotreated Vegetable Oil (HVO).

Pada tema teknologi hijau, sekitar 30 perusahaan rintisan dan hasil pengembangan universitas akan memamerkan inovasi yang telah diterapkan dalam berbagai bidang lingkungan. Salah satunya adalah Multi-Spectral Imaging Carbon Observatory (MUSICO), teknologi pemantauan gas rumah kaca yang telah ditempatkan di stasiun luar angkasa Tiangong milik Tiongkok.

Teknologi tersebut dirancang untuk memantau emisi gas rumah kaca dan menyediakan data yang dapat membantu perusahaan menyusun langkah pengurangan emisi serta mendukung lembaga keuangan hijau.

MENARIK DIBACA:  Huawei dan PEA Luncurkan Solusi Gardu Induk Cerdas Berbasis AI di Thailand

Untuk pembangunan kota hijau, pameran akan menampilkan sistem pembangkit listrik tenaga air modular yang memanfaatkan sumber daya hidraulis yang sebelumnya terbuang dari tangki air dan sistem pendingin gedung. Teknologi robot untuk pekerjaan plesteran dan pengecatan bangunan juga akan diperkenalkan sebagai solusi yang diklaim mampu bekerja setidaknya lima kali lebih cepat dibandingkan tenaga manual, sekaligus mengurangi penggunaan material hingga separuhnya.

Sementara itu, tema pengelolaan limbah akan menghadirkan perusahaan-perusahaan yang mengembangkan solusi pengolahan sampah dan ekonomi sirkular. Perusahaan berbasis Hong Kong, Green AI Technology Limited, dijadwalkan meluncurkan REV, generasi terbaru stasiun daur ulang tanpa awak yang memanfaatkan kecerdasan buatan dan otomatisasi.

Lebih dari 30 Forum dan Seminar Digelar

Selama pameran, lebih dari 30 forum dan seminar akan diselenggarakan dengan menghadirkan lebih dari 80 pejabat pemerintah, pemimpin industri, dan perwakilan bisnis dari Tiongkok Daratan, Australia, Malaysia, Thailand, serta negara-negara Belt and Road lainnya.

Rangkaian Eco Asia Conference akan membahas berbagai perkembangan teknologi pemantauan cuaca ekstrem, pembangunan gedung hijau, serta tren pembiayaan iklim global.

Pada 26 Oktober, sejumlah akademisi akan membahas teknologi pemantauan cuaca ekstrem dan peran Hong Kong sebagai pusat inovasi hijau regional. Sehari kemudian, perwakilan industri konstruksi akan mengulas pengembangan bangunan hijau dari sisi kebijakan, sertifikasi, dan penerapan di lapangan.

Pada 28 Oktober, Avinash Persaud, Penasihat Khusus Perubahan Iklim untuk Presiden Inter-American Development Bank, dijadwalkan menyampaikan analisis mengenai tren pembiayaan iklim global.

Hari Terbuka untuk Publik pada 29 Oktober

Hari terakhir pameran, 29 Oktober 2026, akan menjadi Public Day dengan akses gratis bagi masyarakat. Agenda ini bertujuan meningkatkan kesadaran terhadap perlindungan lingkungan dan keberlanjutan, sekaligus mendorong penerapan gaya hidup ramah lingkungan.

Sejumlah seminar mengenai iklim, perlindungan lingkungan, dan pemanfaatan kembali limbah makanan akan digelar dengan menghadirkan perwakilan Hong Kong Observatory, ahli meteorologi Hong Kong Leung Wing Mo, serta perwakilan Ways Out HK, sebuah perusahaan sosial yang mengolah limbah makanan menjadi perhiasan.

Pengunjung juga dapat mengikuti lokakarya interaktif, termasuk pembuatan kertas daur ulang, pembuatan pembersih ramah lingkungan, dan permainan edukatif bertema lingkungan.

Melalui rangkaian pameran, konferensi, dan kegiatan publik tersebut, ECO Expo Asia 2026 diharapkan menjadi wadah pertukaran pengetahuan, pengembangan inovasi, serta perluasan kerja sama internasional untuk mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon dan pembangunan berkelanjutan.