FOSHAN, SINKAP.info – Desa-desa tradisional di China kini menjadi magnet baru bagi wisatawan internasional yang mencari pengalaman perjalanan lebih autentik dan kaya budaya. Melalui serial dokumenter bertajuk “Village Voyage”, CGTN mengangkat kehidupan pedesaan di Provinsi Guangdong yang memadukan warisan budaya, seni bela diri, kuliner, hingga tradisi masyarakat lokal.
Program tersebut mengikuti perjalanan pembawa acara asal Amerika Serikat, Julian Waghann, bersama wisatawan asal Namibia, Absalom Absalom, menjelajahi sejumlah desa di Guangdong yang berada di kawasan Delta Sungai Mutiara, dekat Hong Kong.
Di tengah meningkatnya minat wisatawan global terhadap destinasi alternatif, China mencatat 21,33 juta pemeriksaan keluar-masuk wisatawan internasional pada kuartal pertama 2026.
Salah satu desa yang disorot adalah Desa Yang’e di Shunde, Guangdong. Desa kecil tersebut dikenal memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan sejak era Dinasti Ming dan Qing.
Di desa itu terdapat Aula Leluhur Lu yang dahulu menjadi akademi pendidikan yang didirikan oleh cendekiawan Lu Cang setelah pensiun dari pemerintahan.
Meski berukuran kecil, desa tersebut melahirkan 14 sarjana tingkat tinggi atau jinshi, gelar tertinggi dalam sistem ujian kekaisaran China pada masa lalu.
Selain pendidikan, warisan budaya lain yang masih dijaga masyarakat adalah tarian singa tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Kalau anak-anak ingin belajar, kami hanya menyediakan kesempatan agar budaya ribuan tahun ini tetap diwariskan,” ujar pelatih tarian singa, Feng Jianhua.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Jun’an, kampung leluhur legenda bela diri dunia Bruce Lee. Wilayah Guangdong sendiri dikenal sebagai pusat seni bela diri tradisional China bagian selatan.
Di daerah itu, seni bela diri Wing Chun masih dilestarikan oleh pewaris generasi kelima Shaolin Wing Chun, Luo Dezhi, yang telah berlatih lebih dari 50 tahun.
“Bagi seorang ahli bela diri, moral adalah yang utama, baru kekuatan fisik. Kung fu adalah representasi budaya tradisional China untuk menjaga diri dan membantu orang lain,” katanya.
Selain budaya dan seni bela diri, serial ini juga menampilkan proses pembuatan kain tradisional xiangyunsha atau gambiered Canton gauze yang dikenal sebagai “emas lembut”.
Kerajinan tangan yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda itu masih diproduksi secara manual oleh masyarakat Shunde dan pernah menjadi komoditas perdagangan penting hingga ke Malaysia.
Tak kalah menarik, Shunde juga dikenal sebagai salah satu UNESCO City of Gastronomy atau kota gastronomi dunia. Kawasan ini disebut sebagai salah satu pusat lahirnya kuliner Kanton yang terkenal di China.
Wisatawan dapat menikmati beragam makanan khas seperti kulit ikan goreng renyah, susu goreng khas Shunde, hingga irisan ikan mentah tradisional.
“Ini mungkin pilihan terbaik yang saya buat tahun ini. Saya tidak pernah membayangkan bisa menemukan makanan seperti ini di sebuah desa,” ujar Absalom.
CGTN menyebut Village Voyage tidak hanya menjadi tayangan dokumenter, tetapi juga panduan wisata modern yang menghadirkan rute perjalanan, video pendek, hingga pengalaman visual mendalam mengenai kehidupan pedesaan di China.
Melalui serial tersebut, China ingin menunjukkan bahwa pembangunan desa modern dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya, tradisi, dan identitas lokal masyarakatnya.







