SINGAPURA, SINKAP.info – Zoho Corporation merilis laporan terbaru bertajuk State of Workforce Password Security 2026 yang mengungkap tingginya risiko keamanan kredensial di kawasan Asia Pasifik (APAC) akibat penggunaan aplikasi bisnis yang semakin tidak terkendali.
Riset global yang dilakukan bersama Tigon Advisory Corp. itu melibatkan 3.322 responden dari sembilan wilayah dunia, enam industri, dan 12 jenis pekerjaan. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan aplikasi di lingkungan kerja tidak diimbangi tata kelola keamanan kredensial yang memadai.
Dalam laporan tersebut, sebanyak 64 persen bisnis di kawasan APAC diketahui menggunakan lebih dari 15 aplikasi bisnis berbeda. Angka ini lima poin lebih tinggi dibanding rata-rata global dan menjadikan APAC sebagai salah satu kawasan dengan tingkat penyebaran aplikasi tertinggi di dunia.
Kondisi tersebut dinilai memperbesar risiko serangan siber, terutama terkait pengelolaan identitas dan akses pengguna.
Chief Evangelist of Cyber Solutions Zoho Corporation, Chandramouli Dorai mengatakan pertumbuhan jumlah aplikasi telah memperluas titik masuk bagi ancaman keamanan digital.
“Rata-rata karyawan APAC kini mengakses lebih dari 15 aplikasi bisnis, sementara sebagian besar organisasi belum sepenuhnya mengetahui siapa yang memiliki akses terhadap sistem mereka,” ujarnya.
Menurut laporan tersebut, sebanyak 32 persen perusahaan di APAC mengaku mengalami serangan siber dalam setahun terakhir. Selain itu, 73 persen bisnis mengaku belum memiliki visibilitas penuh terhadap identitas tenaga kerja mereka, termasuk akun tidak terpantau dan akses yang tidak terdokumentasi.
Laporan itu juga menemukan bahwa 66 persen organisasi di APAC belum menerapkan strategi keamanan Zero Trust, meskipun sebagian besar berencana mengadopsinya dalam satu hingga tiga tahun mendatang.
Di sisi lain, optimisme terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam keamanan siber juga meningkat. Sebanyak 91 persen responden APAC percaya AI dapat memperkuat sistem keamanan perusahaan. Namun, hanya delapan persen bisnis secara global yang dinilai siap menerapkan keamanan berbasis AI saat ini.
Riset tersebut menyebut infrastruktur lama dan kompleksitas migrasi sistem sebagai hambatan utama implementasi keamanan modern, bahkan melampaui persoalan anggaran.
Pendiri dan CEO Tigon Advisory Corp., Helen Yu menilai perusahaan perlu fokus membangun fondasi keamanan yang sederhana dan terintegrasi sebelum mengejar teknologi keamanan tingkat lanjut.
“Masalah utama bukan pada anggaran, melainkan arsitektur sistem, talenta, dan visibilitas identitas,” kata Helen Yu.
Laporan ini juga menyoroti kerentanan sektor usaha kecil dan menengah (UKM) di kawasan APAC. Banyak UKM disebut belum memiliki tim keamanan khusus dan masih mengandalkan spreadsheet bersama maupun kebijakan manual untuk mengelola kata sandi dan akses sistem.
Kondisi tersebut disebut sebagai “titik buta kredensial UKM” yang berpotensi menjadi ancaman sistemik di kawasan dengan pertumbuhan bisnis berbasis UKM yang tinggi.
Sebagai rekomendasi, laporan tersebut mendorong perusahaan untuk mulai menerapkan password manager terpusat, autentikasi multi-faktor, peningkatan visibilitas identitas pengguna, serta pengujian solusi keamanan berbasis AI dalam 12 bulan ke depan.
CEO Zoho Corporation, Mani Vembu mengatakan perusahaan perlu segera beralih ke platform keamanan yang lebih modern dan siap menghadapi perkembangan AI.
“Seiring AI semakin canggih dalam mengeksploitasi kelemahan keamanan, migrasi menuju platform yang aman dan siap AI menjadi semakin mendesak,” ujar Mani Vembu.
Laporan lengkap State of Workforce Password Security 2026 dapat diakses melalui Zoho Vault Report.







