Gelisah Aktivis Terhadap Kritis Apatis Pengabdian Masyarakat

Opini199 Dilihat

JAWA TENGAH, SINKAP.INFO – Sewajarnya sebagai manusiawi, yang notabenenya sebagai makhluk ciptaan Tuhan tentunya kehidupan manusia selalu berputar. Adakalanya kita seakan-akan merasa di atas puncak langit ketujuh dan adakalanya kita merasa dibawah palung terdalam disepanjang zaman. Begitu pula dengan fenomena tingkat kepedulian sosial seseorang terhadap masyarakat atau lingkungan sekitar, terkadang mereka mudah peka, terkadang pula acuh tak acuh dengan kondisi yang ada. Namun hal terpenting yang harus kita realisasikan adalah jangan mudah gugup dalam menilai tingkat kepedulian seseorang, seseorang bisa saja berubah dengan adanya suatu sebab yang kita tidak tahu , sejatinya apa yang kita rasakan belum tentu orang lain rasakan, apa yang orang lain perjuangkan belum tentu kita perjuangkan.

Aktivis: Kritis atau Apatis?

Selama proses pengukiran sejarah pengalaman hidup penulis menjadi seorang aktivis berbagai organisasi, mulai dari hal-hal kecil sampai ke berbagai permasalahan dan penyelesaiannya, penulis menemukan berbagai macam pengalaman dalam menilai kepribadian seseorang. Hal menarik yang penulis temukan tentunya sangat berkaitan dengan tingkat kepedulian sosial individu terhadap masyarkat. Sesuatu yang sangat harus dimiliki oleh seorang organisator yakni sikap kritis bukan apatis terhadap lingkungannya terkhusus terhadap masyarakat sekitar sebagai wujud pengabdian. Pertanyaan yang akan muncul sekarang adalah, apakah kritis dan apatis itu memiliki perbedaan makna? Ya, Jelas berbeda! Jangan pernah berasumsi bahwa kedua kata tersebuat mempunyai persamaaan akhiran kata _tis sehingga akan meghasilkan istilah yang sama

Ketika mendengar kata kritis disuatu majlis, yang muncul di dalam benak penulis adalah kritis merupakan suatu perkara atau peristiwa yang genting. Salah seorang sahabat penulis pernah berkata bahwa salah satu kebebasan yang tidak bisa di kekang adalah kebebasan dalam berfikir. Maka dari itu berfikirlah sebelum masa berfikirmu diberhentikan, terus kembangkan imajinasi yang ada. Kembali lagi ke pengertian kritis. Secara sederhana kritis bisa diartikan sebagai pemikiran logis dan sistematis dalam membuat keputusan. Lawan kata dari kritis adalah apatis yang diartikan sebagai sikap acuh tak acuh, masa bodoh terhadap suatu hal. Bayangkan saja bagaimana suatu organisai jika seluruh kader dan anggotanya selalu mengedapankan sikap apatisnya dari pada kritisnya.

MENARIK DIBACA:  Pencegahan Covid-19 di Tempat Kerja, di Masa Pandemik dan New Normal

Berfikir kritis adalah sebuah proses seseorang yang terarah dan jelas yang biasa digunakan dalam kegiatan yang berkaitan dengan mental seperti: Memecahlan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis pendapat atau asumsi dan melalukan kegiatan ilmiah.(Johnson 2009:183).

Menurut pendapat yang sudah penulis paparkan diatas, Saat ini penulis merupakan mahasiswa yang sedang sekuat tenaga menjadi aktivis yang kritis, bukan apatis. Bagi penulis mahasiswa adalah siswa yang maha atau dapat dikatakan kasta tertinggi dari pendidikan. Sehingga segala sifat dan sikap ketika masih menjadi siswa tingkat menengah harus diubah terutama aspek sifat-sifat negatif seperti apatis tadi. Fenomena di masyarakat senantiasa bermunculan. Kabar-kabar yang berkeliaran belum tentu sepenuhnya benar. Jika seseorang bersikap apatis terhadap fenomena sekitar bisa dibayangkan betapa kian semrawutnya keadaan.

Apa Peran Aktivis dalam Pengabdian Masyarakat?

Imam Ghazali sangat berbeda dengan masyarakat, pemimpin dan ilmuan-ilmuah kita pada hari ini, yang ada umumnya sangat senang menjelekkan suatu pandangan tanpa melihat terlebih dahulu dan memahami sepenuhnya pandangan yang berbeda dengan asumsi atau pendapat mereka. Menurut Imam Ghazali, sesungguhnya mereka seperti orang buta yang sedang memanah. Perilaku seperti ini jelas bukan adab seorang muslim dalam memandang realitas.

Terkait dengan apa yang sudah penulis paparkan, penulis berasumsi bahwa apa yang didawuhkan Imam Ghazali sejalan dengan pengertian berfikir kritis yang saat ini menjadi budaya akademisi atau aktivis di barat. Hal ini tercermin dari bagaimana mereka mengembangkan ilmu dengan saling kritik-otokritik tanpa adanya landasan dan wujud perealisasian.

MENARIK DIBACA:  Hak Asasi Kesehatan Manusia yang Terbelenggu

Sudah sangat menjadi kegelisahan kita bersama selaku generasi penerus bangsa, selaku aktivis mahasiswa mempunyai sikap apatis terhadap pengabdian masyarakat. lazimnya kritis itu sendiri tidak hanya sebagai alat pansos semata, tapi bagaimana kita merealisasikan kemanfaatan keaktifan kita di berbagai organisasi kita realisasikan dilingkungan sekitar dan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Berpikir kreatif merupakan kunci utama yang harus dipegang oleh seorang aktivis dalam mewujudkan sikap kritis dibidang pengabdian masyarakat, berfikir kreatif juga merupakan jalan untuk mempermudah kita untuk bisa mudah mempunyai jiwa individual yang tinggi akan nilai sosial kemasyarakatan. Hidup terjun dimasyarakat bukanlah hal yang mudah, tetapi dengan berbagai sikap kreatif yang kita wujudkan sehingga muncul jiwa-jiwa produktif yang akan mudah dalam pengaplikasian sehingga sasaran akan cepat terealisasikan.

Berbicara lagi dengan sikap apatis, sangat lah tidak bisa dipungkiri bahwa Tuhan menciptakan makhluknya agar hidup saling bermanfaat bagi orang lain seperti sabda Rasulullah yang artinya “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia lain” dengan adanya hadis tersebut maka sangat tidak mungkin jika kita ingin bermanfaat bagi orang lain tetapi kita sering mengedepankan emosional keapatisan dalam diri kita.

Dari apa yang sudah penulis paparkan diatas, penulis menarik benang merah bahwa seorang aktivis mahasiswa tidak hanya seorang aktivis yang berlabel pansos saja, tetapi sejatinya aktivis ialah ia yang berkarakter kritis bukan mengedepankan apatis baik dalam pengabdian lingkungan sekitar maupun pengabdian diberbagai penjuru sosial kemasyarakatan, dan sebaik-baik aktivis adalah  yang sangat banyak memetik  buah kemanfaatan di berbagai pemberdayaan kehidupan.

Oleh : Dea Puji Saputri
Mahasiswi Semester 3 INISNU Temanggung, Sekaligus Aktivis Organisasi, Pejuang Ngaji, Ngabdi, dan Barokah Kyai

SINKAP.INFO | Redaksi