Sab. Sep 21st, 2019

SINKAP

Suara Anak Bangsa

Tinjauan Filsafat “Politik Kekuasaan menurut Niccolo Machiavelli”

Tinjauan Filsafat "Politik Kekuasaan menurut Niccolo Machiavelli"

Tinjauan Filsafat "Politik Kekuasaan menurut Niccolo Machiavelli"

1.  Tinjauan Ontologi

Judul Buku: Politik Kekuasaan menurut Niccolo Machiavelli
Cover: Ilustrasi bergambar peperangan, gambar profil Niccolo Machiavelli
Sub cover:Tulisan Politik Kekuasaan bewarna hitam background dasar putih. Tertera Undang-undang Hak Cipta dan ketentuan Pidana. Jakarta: Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, Editor penerbitan dan tahun cetakan buku. Daftar isi terdiri dari kata pengantar dan VII sub bab pembahasan.
Isi buku:126 halaman + ilustrasi bergambar + penekanan dan penguatan kalimat pernyataan: ukuran kertas 14 x 21 cm 
Buku asli: II Principe tanpa daftar pustaka
 
2.      Tinjauan Epistimologi
Politik kekuasaan merupakan hasil buku II Principe karangan Niccolo Machiavelli. Penulis menerbitkan buku ini dalam terjemahan bahasa Indonesia agar bisa dibaca oleh masyarakat Indonesia mengenai hasil pemikiran tokoh dunia tentang politik dan kekuasaan. Niccolo Machiavelli yang dituduh sebagai penyebar politik kotor dengan cara menghalalkan segala cara untuk menjadi penguasa, memiliki pengaruh dalam mempertahankan kekuasaan sehingga banyak orang beranggapan bahawa politik itu kejam dan permainan yang kotor untuk meraih kekuasaan. Pemahaman ini menjadi bias bagi penganut paham Machiavellisme yang berasal dari seorang penulis terkenal Niccolo Machiavelli.
Pemahaman yang sudah menjamur dan mengatasnamakan Niccolo Machiavelliini ternyata jauh dari kenyataan dan maksud Niccolo Machiavelli dalam mengungkapkan pemahaman melalui tulisannya yang berjudul  II Principe. Hasil pemikiran dan pemahaman Niccolo Machiavelli yang melihat kejamnya nilai sebuah politik sesuai dengan kenyataan yang dibacanya melalui kondisi dan situasi yang terjadi dilingkungannya bukan dari hasil prilaku politik dan kekuasaan yang dilakukan dan diterapkan oleh Niccolo Machiavelli.
Kebenaraanya dalam buku ini hanya menyadarkan apa yang sudah terjadi secara nyata dalam merebut sebuah kekuasaan dengan cara politik the end justifies the means (menghalalkan segala cara) dan seharusnya bukanlah cara yang baik dalam berpolitik untuk berkuasa dan mempertahankan kekuasaan. Hasil tulisan ini merupakan bagian metode positivisme yang berawal dari apa yang telah diketahui secara faktual dan pemikiran positif. Sebuah pemikiran yang tertuang dalam tulisan tentang kebenaran dengan segala yang tampak dan segala gejolak dengan berbagai faktor gejala dan akibat yang dipengaruhinya.
Penyajian buku  Politik Kekuasaan menekankan pada sambutan sekapur sirih bahwa Niccolo Machiavellimerupakan tokoh yang merindukan persatuan dan kedamaian dalam masa kejayaan penguasa yang tidak menggunakan potilik pecah belah sehingga menimbulkan pertikaian, peperangan dan perpecahan bangsa. Namun hasil pemikiran tersebut menjadi bumerang bagi penulis yang diklaim sebagai manusia bertopeng setan akibat buah hasil pemikirannya yang dianggap sebagai ajaran yang kejam. Niccolo Machiavelli diabadikan dalam sebuah kamus berupa sifat Machiavellianyaitu sifat yang mencakup pikiran, sikap dan tindakan licik yang kejam.
Kemasyhuran dan kenyataan pengaruh hasil tulisan ini dapat kita lihat sampai saat ini dalam politik merebut kekuasaan. Namun disayangkan kebenarannya yang menjadi salah kaprah karena pemahaman tentang Politik kekuasaan menjadi buku pegangan setengah resmi oleh dictator terkemuka dunia. Ajaran Machiavellen sebenarnya bukanlah Niccolo Machiavell sendiri melainkan para penguasa yang ditelitinya pada saat masa kehidupan Niccolo Machiavell. Alhasil padan tahun 1559, setelah 32 tahun wafatnya Niccolo Machiavelli, pembesar Gereja memasukkan II Principe hasil karangan Machiavelli dalam daftar buku terlarang yang dikenal sebagai Trindentine index.
3.      Tinjauan Aksiologi
Secara logika resume buku Politik kekuasaan merupakan sebuah teori kebenaran tentang kenyataan nilai dalam berpolitik untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan dengan cara melakukan segala cara untuk mendapatkan tujuan kekuasan tanpa melihat dan mempertimbangkan akibat yang terjadi. Memanfaatkan peluang, mengandalkan kemampuan senjata perang, melewati konstitusi pemilu dan menggunakan cara licik dan kejam merupakan cara yang ditempuh untuk menjadi penguasa. Menjadi sudah biasa kita bicarakan, kita lihat, kita baca, dan kita pahami bahwa politik kekuasaan hari ini menjadi peluang sebagai teman dan besoknya menjadi musuh untuk mendapatkan satu tempat posisi sebagai penguasa. Niccolo Machiavelli mengungkapkan politik menghalalkan segala cara akan menimbulkan perpecahan, perselisihan, pertikaian dan peperangan.
Nilai politik kekuasaan yang ditulis oleh Niccolo Machiavelli menimbulkan argument oleh Leo Strauss bahwa ajaran Niccolo Machiavelli merupakan ajaran yang tidak bermoral dan seorang pemikir titisan setan. Hasil pemikiran Niccolo Machiavelli adalah kenyataan positivisme yang dipelajari dan ditelitinya dari berbagai penguasa di Eropa. Pemahaman tersebut menghasilkan amoral conduct (tindakan tidak bermoral), nilai estetika secara sistematis dalam seni berkuasa memanfaat peluang dan perang. Pemikiran Niccolo Machiavelli melahirkan sosio-political-lifekehidupan dalam social politik yang berfilsafat secara sosio politik kekuasan dengan cara the end justifies the means (mengahalalkan segala cara). (MF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »