Bina Kamila, Talenta Muda di Balik Gaya Unik Girl Group South Queen

Lifestyle36 Dilihat

JAKARTA, SINKAP.info – Fashion bukan sekadar tentang busana yang dikenakan, tetapi juga cara membangun identitas, menyampaikan cerita, dan menunjukkan karakter. Pemikiran tersebut menjadi landasan kreatif Bina Kamila (@binakmla), Creative Director berusia 23 tahun lulusan Fashion Business LaSalle College Jakarta, yang merancang pendekatan visual dengan memadukan karakter personal, storytelling, dan identitas budaya Indonesia.

Pendekatan itu diterapkannya dalam proyek South Queen, girl group yang mengeksplorasi perpaduan musik hip-hop dan dangdut atau hipdut, dengan sentuhan gaya Barat (Western).

Kepada awak media di Jakarta, Kamis (22/10/2026), Bina mengatakan ketertarikannya terhadap dunia fashion tumbuh sejak masa kanak-kanak melalui lingkungan keluarga yang memiliki kecintaan terhadap mode. Pengalaman mengenal proses menjahit dan menciptakan sesuatu sejak dini membentuk pandangannya bahwa fashion memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar estetika.

Baginya, pilihan busana, warna, dan siluet dapat menjadi bahasa visual yang merepresentasikan kepribadian sekaligus menyampaikan pesan tanpa harus bergantung pada kata-kata.

“Fashion has always been my escape, and eventually became my language,” ungkap Bina, menggambarkan bagaimana fashion awalnya menjadi ruang pelarian personal sebelum berkembang menjadi medium komunikasi kreatif.

Pandangan tersebut semakin berkembang selama menempuh pendidikan Fashion Business di LaSalle College Jakarta. Pendidikan itu memperkaya pemahamannya mengenai hubungan antara konsep, estetika, strategi, dan pembentukan identitas visual.

Kini, Bina menekuni bidang creative direction dan styling, dengan fokus menerjemahkan gagasan menjadi tampilan yang relevan, kuat, dan selaras dengan karakter setiap proyek.

MENARIK DIBACA:  Tri Vananda Ciptakan Komunitas Wellness Regeneratif dengan Harmoni dan Umur Panjang

Meramu Identitas Visual South Queen

Keterlibatan Bina sebagai Creative Director South Queen menjadi salah satu wujud penerapan pendekatan kreatif tersebut. Girl group yang mengusung konsep hipdut ini memadukan hip-hop dan dangdut sebagai ekspresi musik yang berupaya menjangkau selera generasi muda tanpa meninggalkan akar budaya Indonesia.

Melalui arahan kreatifnya, Bina mengembangkan identitas visual yang mempertemukan energi musik, karakter personal para personel, dan pengaruh budaya populer global dalam satu konsep yang utuh.

Nama South Queen turut menginspirasi pembentukan karakter visual grup yang modern, ekspresif, dan berani. Bina mengeksplorasi gaya Barat yang dekat dengan kultur anak muda urban, khususnya citra yang lekat dengan kawasan Jakarta Selatan, lalu memadukannya dengan elemen dangdut sebagai bagian penting dari identitas South Queen.

Pendekatan tersebut menghadirkan interpretasi visual yang lebih segar terhadap perpaduan budaya populer internasional dan karakter musik Indonesia.

Bagi Bina, tantangan dalam styling tidak berhenti pada upaya menciptakan penampilan yang seragam bagi seluruh personel. Ia justru memandang setiap anggota sebagai individu dengan fitur, kepribadian, dan karakter berbeda yang perlu mendapatkan ruang untuk menonjol.

Karena itu, pemilihan warna, siluet, dan gaya busana disesuaikan dengan karakter masing-masing personel. Sementara itu, benang merah konsep tetap dipertahankan untuk menjaga kesatuan identitas South Queen.

Strategi tersebut dirancang untuk membangun kepercayaan diri para personel sekaligus memperkuat stage presence ketika tampil di hadapan publik. Setiap elemen visual memiliki peran dalam mendukung ekspresi, gerak, dan karakter musik yang dibawakan.

MENARIK DIBACA:  Bad Bunny Gegerkan Super Bowl LX, Berlian Gurun Langka Jadi Sorotan Dunia

Dengan demikian, fashion tidak hanya menjadi pelengkap penampilan panggung, tetapi juga bagian dari pengalaman artistik yang membantu audiens mengenali dan mengingat identitas South Queen.

Fashion sebagai Bahasa Komunikasi

Dalam praktik creative direction dan styling, Bina memandang proses kreatif sebagai perjalanan menerjemahkan gagasan menjadi representasi visual yang bermakna.

Keputusan mengenai warna, bentuk, proporsi, hingga keseluruhan gaya busana merupakan bagian dari narasi yang membentuk persepsi audiens terhadap seseorang, kelompok, maupun sebuah proyek. Pendekatan ini menempatkan fashion sebagai instrumen komunikasi yang menyatukan estetika dengan pesan.

Berangkat dari kecintaannya terhadap fashion sejak kecil, Bina terus mengeksplorasi hubungan antara identitas individu dan karakter kolektif. Ia berupaya menghadirkan konsep visual yang tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga relevan dengan cerita, tujuan, dan karakter pihak yang direpresentasikan.

Dalam proyek South Queen, pendekatan tersebut terlihat melalui upaya menyatukan kebebasan berekspresi generasi muda, pengaruh musik hip-hop, dan akar dangdut Indonesia ke dalam identitas visual yang khas.

Perjalanan kreatif Bina Kamila menunjukkan bagaimana fashion dapat berkembang menjadi medium untuk membangun karakter sekaligus memperluas cara sebuah karya berkomunikasi dengan publik.

Melalui creative direction dan styling, ia menempatkan setiap pilihan visual sebagai bagian dari cerita yang lebih besar. Baginya, fashion bukan semata-mata tentang apa yang dikenakan, melainkan tentang bagaimana identitas diterjemahkan, cerita disampaikan, dan setiap karakter memperoleh ruang untuk bersinar.