10AFEST 2026 Hadir di Hong Kong, Seni dan Teknologi Asia Siap Mendunia

GLOBAL, TEKNOLOGI74 Dilihat

HONG KONG, SINKAP.info – Konferensi internasional 10AFEST 2026 mengangkat tema inovasi seni, teknologi, dan budaya Asia dengan mempertemukan pemimpin museum, seniman, akademisi, serta inovator dari berbagai negara dan wilayah.

Kegiatan yang diselenggarakan Indra and Harry Banga Gallery, City University of Hong Kong (CityUHK), ini dijadwalkan berlangsung pada 8–10 Oktober 2026. Penyelenggaraan perdana tersebut sekaligus menandai satu dekade berdirinya galeri yang menjadi wadah kolaborasi lintas disiplin antara seni, budaya, sains, dan teknologi.

Mengusung tema Asian Art-Tech & Cultural Innovations, 10AFEST 2026 akan menghadirkan sekitar 120 peserta dari 23 kota di 13 negara dan wilayah. Rangkaian kegiatan meliputi empat dialog pleno lintas perspektif Timur dan Barat, enam jalur presentasi jaringan, pertunjukan, instalasi seni, pameran, serta kegiatan jejaring di lingkungan CityUHK dan sejumlah lokasi mitra di Hong Kong.

Bahas Peran Teknologi dalam Pelestarian Budaya

Perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), extended reality (XR), dan ilmu data dinilai membuka peluang baru dalam pelestarian serta penyajian warisan budaya.

Pemanfaatan teknologi tersebut turut memperluas peran seni dan teknologi atau Art-Tech ke berbagai bidang, mulai dari pendidikan, penelitian, kewirausahaan, konservasi, hingga keterlibatan langsung dengan masyarakat.

Bendahara Dewan CityUHK, Charles Chin Ying-on, mengatakan kolaborasi internasional menjadi bagian penting dalam upaya menjawab berbagai tantangan global. Menurutnya, 10AFEST menjadi ruang untuk membangun hubungan lintas budaya sekaligus membuka peluang kerja sama pada masa mendatang.

Ia berharap dialog lintas budaya dan kegiatan interaktif dalam konferensi tersebut dapat mempertemukan gagasan serta mendorong kolaborasi berkelanjutan di antara para peserta.

MENARIK DIBACA:  Novum Studio Raih Pendanaan Baru, Siap Guncang Dunia Bisnis Lewat Platform AI Ahoy Project Global

Melalui forum ini, para pemimpin lembaga kebudayaan dan praktisi generasi baru juga diharapkan dapat berbagi perspektif, memperkenalkan praktik inovatif, serta mengembangkan hubungan lintas disiplin dan negara.

Empat Dialog Pleno Angkat Isu Seni dan Inovasi

Salah satu agenda utama 10AFEST 2026 adalah empat sesi dialog pleno yang mempertemukan tokoh kebudayaan internasional dari latar belakang geografis dan kelembagaan berbeda.

Sesi pertama, (De)globalisation and (Re)connectivity, membahas perubahan lanskap geopolitik, jaringan global, serta peran lembaga kebudayaan dalam menjangkau generasi yang tumbuh di era digital. Dialog ini menghadirkan Profesor Kyong Park dari Seoul/Store Front Gallery New York dan Profesor Matthias Böttger dari Basel Academy of Art and Design.

Sesi kedua, Legacy, Diversity, and Interdisciplinarity, menyoroti perkembangan koleksi sejarah, keberagaman narasi budaya, dan penelitian multidisiplin. Profesor Lu Xiaobo dari Tsinghua University dan Monsinyur Alberto Rocca dari Pinacoteca Ambrosiana akan membahas hubungan antara tradisi kelembagaan, kurasi, dan pendekatan kontemporer.

Sesi ketiga, University Museums and Experiential Learning, berfokus pada perubahan peran museum universitas sebagai ruang pembelajaran imersif. Profesor Jin Jun dari Central Academy of Fine Arts dan Doktor Luke Syson dari Fitzwilliam Museum, University of Cambridge, akan membahas kontribusi galeri akademik terhadap kehidupan kampus dan pendidikan holistik.

Sementara itu, sesi keempat, Digital Museology and Intangible Collection, mengangkat transformasi digital dalam pelestarian warisan budaya, termasuk penggunaan teknologi XR dan AI. Hing Chao dari Hong Kong Cultural Festival dan Cora Würmell dari State Art Collections Dresden akan mengeksplorasi hubungan antara artefak fisik dan arsip hidup serta peluang kolaborasi antara sains, seni, dan sejarah.

MENARIK DIBACA:  Find X9 Rilis, OPPO Jamin Dukungan Premium Cepat dan Personal ke Konsumen Global

Tandai Satu Dekade Kolaborasi Seni dan Sains

Sejak didirikan pada 2016, Indra and Harry Banga Gallery telah menjadi ruang kolaborasi antara bidang humaniora dan sains melalui berbagai pameran yang menggabungkan pendekatan artistik, teknologi, dan penelitian.

Pendiri sekaligus Ketua Kehormatan Komite Penasihat galeri, Indra Banga, mengatakan dirinya bersama Harry Banga memiliki visi untuk mendukung platform yang mempertemukan seni, budaya, teknologi, dan penelitian.

Ia menyebut galeri tersebut terus berkembang menjadi ruang pembelajaran dan eksplorasi yang menghubungkan talenta serta gagasan dari Hong Kong dan berbagai belahan dunia. Dukungan terhadap galeri dan CityUHK pun akan terus dilanjutkan.

Selain dialog pleno, program 10AFEST mencakup presentasi penelitian terapan di bidang Art-Tech, kewirausahaan budaya, pembelajaran interaktif, kolaborasi lintas budaya, museologi digital dan warisan Asia, serta pemanfaatan seni untuk dampak sosial dan lingkungan.

Kegiatan demonstrasi, pertunjukan, pameran, dan sesi jejaring juga disiapkan untuk mempertemukan peserta serta membuka peluang kemitraan baru.

Peserta berasal dari sejumlah negara dan wilayah, termasuk China, Jerman, Indonesia, Italia, Mongolia, Myanmar, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Swiss, Thailand, Inggris, dan Vietnam. Dari Indonesia, Yogyakarta tercatat sebagai salah satu kota yang masuk dalam daftar kota peserta.

Melalui penyelenggaraan perdananya, 10AFEST diharapkan menjadi wadah pertukaran gagasan dan pengembangan kemitraan yang mendukung pertumbuhan seni berbasis teknologi serta inovasi budaya di Asia.

Informasi lebih lanjut mengenai Indra and Harry Banga Gallery dan pameran-pamerannya dapat diakses melalui situs resmi CityUHK di https://www.cityu.edu.hk/bg/.