LONDON, SINKAP.info — De Beers Group bekerja sama dengan penerbit mewah Assouline merayakan peluncuran buku “A Diamond Is Forever: The Making of a Cultural Icon 1926–2026”, sebuah karya yang menelusuri perjalanan berlian selama satu abad sebagai simbol cinta, prestasi, dan nilai budaya global.
Buku ini mengangkat peran De Beers dalam mengubah persepsi berlian sejak era 1930-an. Pada masa itu, perhiasan berlian masih terbatas di kalangan elite dan diperdagangkan secara tertutup. De Beers kemudian membuka narasi baru dengan memperkenalkan berlian kepada publik luas sebagai mahakarya alam dan hasil keahlian manusia, sekaligus penanda momen romantis dan pencapaian hidup.
Tonggak penting dalam perjalanan tersebut terjadi pada 1947, ketika copywriter Frances Gerety menciptakan slogan legendaris “A Diamond Is Forever.” Kalimat ini menempatkan berlian sebagai simbol cinta yang abadi dan janji ketahanan waktu, melampaui maknanya sebagai sekadar hadiah. Kampanye ini diperkuat melalui iklan arsip, publikasi majalah, hingga dukungan selebritas, yang membentuk hubungan emosional kuat antara berlian dan komitmen jangka panjang.
Buku ini juga menampilkan karya seni hasil kolaborasi De Beers dengan seniman ternama seperti Pablo Picasso, Salvador Dalí, dan Raoul Dufy. Karya-karya tersebut menghubungkan kelangkaan berlian yang terbentuk selama miliaran tahun di dalam bumi dengan kejeniusan seni rupa, memperkuat citra berlian sebagai harta alam tertua yang sarat makna budaya.
Perjalanan berlian sebagai ikon budaya berlanjut dari dekade ke dekade. Pada 1960-an, sosok-sosok seperti Elizabeth Taylor dan Marilyn Monroe mempopulerkan berlian sebagai simbol kemewahan dan glamor. Sementara itu, kampanye “Shadows” pada 1990-an, dengan iringan musik Palladio karya Karl Jenkins, menegaskan karakter berlian sebagai sesuatu yang autentik, unik, dan abadi.
Dalam perkembangannya, makna berlian juga berevolusi seiring meningkatnya kesadaran akan isu asal-usul, keberlanjutan, dan etika. Kini, berlian tidak hanya dipandang sebagai lambang cinta, tetapi juga tanggung jawab dan nilai moral. Melalui buku ini, De Beers menghadirkan refleksi tentang bagaimana berlian terus beradaptasi dengan perubahan nilai dan aspirasi masyarakat.
Seperti menelusuri galeri seni yang mencatat evolusi zaman, “A Diamond Is Forever: The Making of a Cultural Icon 1926–2026” menyajikan kisah berlian sebagai cermin perjalanan budaya manusia antara tradisi, inovasi, dan keberlanjutan.







