Indonesia Alihkan Target Wisatawan ke ASEAN, Jalur Dumai–Melaka Jadi Andalan Baru

Ekonomi, Wisata145 Dilihat

JAKARTA, SINKAP.info – Pemerintah Indonesia mulai mengalihkan fokus strategi pariwisata dengan membidik wisatawan mancanegara asal Asia Tenggara (short-haul) sebagai upaya menjaga stabilitas devisa di tengah penurunan kunjungan turis dari Eropa dan Amerika Serikat.

Langkah ini mendapat dukungan dari Anggota Komisi VII DPR RI, Hendry Munief, yang menilai pergeseran target pasar tersebut sebagai strategi realistis di tengah dinamika geopolitik global yang memengaruhi sektor pariwisata.

“Potensi short-haul seperti Asia Tenggara sangat realistis kita garap saat ini. Dinamika pasar global menjadi bukti bagaimana peta kekuatan pariwisata dunia berkembang,” ujar Hendry, Senin (6/4/2026).

Menurutnya, negara-negara di kawasan ASEAN tidak hanya potensial sebagai sumber wisatawan, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam pengembangan industri dan ekspor produk lokal.

Penurunan kunjungan wisatawan internasional akibat konflik global disebut telah berdampak signifikan. Indonesia diperkirakan kehilangan hingga 1,64 juta wisatawan mancanegara. Kondisi ini mendorong perlunya percepatan pembangunan konektivitas regional, salah satunya melalui jalur laut Roll On-Roll Off (Ro-Ro) yang menghubungkan Dumai dengan Melaka.

MENARIK DIBACA:  Permudah Balik Nama Tanah, ATR/BPN Ajak Masyarakat Gunakan Aplikasi Sentuh Tanahku

Dalam rapat kerja bersama Kementerian Pariwisata, Hendry mendorong agar rute Dumai–Melaka segera diaktifkan sebagai hub internasional baru. Ia menilai Provinsi Riau memiliki keunggulan dari sisi geografis dan kedekatan budaya Melayu dengan negara-negara jiran.

“Di tengah fluktuasi harga minyak dunia yang berdampak pada mahalnya tiket pesawat, jalur laut menjadi alternatif transportasi yang lebih terjangkau bagi wisatawan,” tegasnya.

Selain itu, keberadaan Tol Trans Sumatera yang telah menghubungkan Dumai dengan berbagai kota besar di Sumatera dinilai mampu memperkuat daya tarik jalur tersebut. Integrasi akses darat dan pelabuhan internasional diyakini akan mempermudah mobilitas wisatawan sekaligus mendorong arus investasi dan logistik di kawasan pesisir timur Sumatera.

Hendry juga menyoroti faktor kedekatan budaya sebagai keunggulan kompetitif. Menurutnya, masyarakat di kawasan ASEAN yang didominasi budaya Melayu memiliki keterikatan emosional dengan wilayah Sumatera.

MENARIK DIBACA:  Konferensi Internasional NWI: Perempuan UMKM Kunci Pertumbuhan Ekonomi dan SDGs Berkelanjutan

“Kedekatan budaya ini membuat wisatawan dari Malaysia, Singapura, hingga Thailand merasa lebih nyaman saat berkunjung ke Riau dan sekitarnya,” ujarnya.

Strategi penguatan pasar regional ini juga menjadi respons terhadap gangguan penerbangan internasional akibat konflik di Timur Tengah, termasuk penutupan wilayah udara di Iran pada akhir Februari hingga Maret 2026. Kondisi tersebut memicu pembatalan massal penerbangan menuju pintu masuk utama wisata Indonesia seperti Jakarta, Bali, dan Medan.

Data menunjukkan sekitar 770 jadwal penerbangan dari sejumlah hub global, termasuk Dubai dan Doha, terpaksa dibatalkan. Dampaknya, Indonesia kehilangan sekitar 60 ribu wisatawan asing dalam waktu singkat, dengan potensi devisa sebesar Rp2,04 triliun yang tidak terealisasi.

Melalui penguatan jalur laut Dumai–Melaka, pemerintah diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada jalur udara internasional sekaligus menjaga konektivitas regional di tengah ketidakpastian global.