Permintaan Sawit China Tertekan, Minyak Kedelai dan Kanola Kian Mendominasi

Ekonomi, NASIONAL84 Dilihat

JAKARTA, SINKAP.info — China sebagai pasar terbesar minyak sawit dunia diperkirakan akan mengurangi permintaan impor sawit seiring meningkatnya pasokan minyak nabati alternatif dengan harga lebih murah. Kondisi ini dinilai akan sangat memengaruhi dinamika harga minyak sawit di pasar global.

Saat ini, China mendapatkan diskon harga untuk minyak kedelai dan minyak kanola, sehingga memberi lebih banyak pilihan bagi pelaku industri pangan dan menekan ketergantungan terhadap minyak sawit. Kesepakatan dagang antara China dan Kanada turut membuka akses lebih luas terhadap minyak kanola dengan harga kompetitif.

Selain Kanada, China juga meningkatkan pembelian kanola dari Australia serta mengimpor minyak kedelai dalam jumlah besar. Kombinasi pasokan tersebut dinilai menjadi faktor utama melemahnya permintaan minyak sawit di Negeri Tirai Bambu.

Meskipun terdapat harapan peningkatan konsumsi menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, pelaku pasar menilai lonjakan permintaan tidak akan setinggi tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, China kini memiliki lebih banyak alternatif minyak nabati dengan harga relatif lebih murah.

MENARIK DIBACA:  Demo Nasional Memanas, 8 Tewas Termasuk Ojek Online yang Terlindas Kendaraan Polisi

“Saya pikir pihak China tidak terlalu terdesak karena mereka memiliki banyak pilihan, berbeda dengan India. China masih sangat memperhatikan pergerakan harga di bursa Dalian,” ujar seorang analis kepada Reuters menjelang konferensi industri di Kuala Lumpur, seperti dikutip BusinessTimes.

Analis tersebut juga menyebut harga minyak sawit Indonesia yang lebih kompetitif turut memengaruhi kinerja ekspor minyak sawit Malaysia ke China. Data Dewan Minyak Sawit Malaysia (Malaysian Palm Oil Board/MPOB) mencatat, ekspor minyak sawit Malaysia ke China turun 35,7 persen pada tahun lalu.

Meski demikian, Malaysia berpeluang mendapatkan keuntungan dari rencana kenaikan pungutan (levy) ekspor minyak sawit Indonesia yang dijadwalkan mulai berlaku pada Maret mendatang. Kebijakan tersebut berpotensi menggeser sebagian permintaan impor China ke Malaysia.

MENARIK DIBACA:  Lirik Bisnis Nikel di Tanah Air, PT PIL Siapkan Rencana Strategis

Sementara itu, analis dari Indonesia memperkirakan harga minyak sawit global akan sedikit melemah pada tahun ini. Tekanan harga dipicu oleh produksi sawit yang kuat serta tingginya output minyak kedelai (soyoil) yang menambah pasokan minyak nabati dunia.

China sendiri sangat bergantung pada impor minyak nabati seperti minyak sawit, minyak kedelai, kanola, dan minyak bunga matahari untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Ketergantungan ini membuat China rentan terhadap fluktuasi harga global dan gangguan pasokan.

Saat ini, minyak kedelai masih mendominasi konsumsi minyak goreng di China dengan pangsa sekitar 40 persen. Namun, penggunaan minyak sawit terus meningkat secara bertahap, terutama karena harganya yang relatif lebih murah, serbaguna, serta memiliki daya simpan lebih lama dibandingkan minyak nabati lainnya.