HONG KONG, SINKAP.info — HKU Business School secara resmi meluncurkan Hong Kong Economic Policy Green Paper 2026 pada Rabu (15/1/2026). Dokumen ini merupakan edisi kelima yang diterbitkan institusi tersebut dan memuat analisis serta rekomendasi kebijakan untuk menjawab tantangan ekonomi utama Hong Kong di tengah perubahan global, perkembangan teknologi, dan persoalan sosial yang kian kompleks.
Green Paper 2026 membahas berbagai sektor strategis, mulai dari pembiayaan perdagangan, peran Hong Kong dalam ekosistem startup Greater Bay Area (GBA), keuangan hijau, industri kekayaan intelektual (IP), hingga isu sosial seperti keterjangkauan perumahan dan kepadatan di unit gawat darurat rumah sakit. Dokumen ini juga menyoroti dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap pasar tenaga kerja, keamanan siber, serta peluang pengembangan ekosistem Web 3.0.
Wakil Rektor dan Wakil Presiden The University of Hong Kong sekaligus Direktur Hong Kong Institute of Economics and Business Strategy, Prof. Richard Wong, mengatakan Green Paper disusun melalui riset akademik mendalam selama beberapa bulan oleh para peneliti HKU Business School.
“Dokumen ini berangkat dari perspektif akademik yang dipadukan dengan pendekatan pemecahan masalah secara praktis. Kami menganalisis berbagai tantangan nyata yang dihadapi Hong Kong, baik dalam aspek ekonomi, tata kelola, maupun kesejahteraan masyarakat, untuk memberikan rekomendasi kebijakan yang aplikatif bagi pemerintah,” ujarnya.
Dekan dan Ketua Departemen Ekonomi HKU Business School, Prof. Hongbin Cai, menegaskan peran Hong Kong sebagai penghubung utama antara Tiongkok dan dunia internasional tetap relevan. Menurutnya, Hong Kong perlu semakin terintegrasi dengan strategi pembangunan nasional Tiongkok sekaligus memperkuat posisinya di pasar global.
“Sebagai institusi yang berakar di Hong Kong, terhubung erat dengan Tiongkok Daratan, dan memiliki jaringan internasional, kami berkomitmen mendukung Hong Kong dalam memasuki fase baru pembangunan berkualitas tinggi,” kata Cai.
Sementara itu, Wakil Presiden Asosiasi The University of Hong Kong dan Wakil Dekan HKU Business School, Prof. Heiwai Tang, menyampaikan bahwa Green Paper 2026 memuat hasil riset dari sepuluh tim peneliti lintas disiplin. Ia menyoroti pentingnya transformasi digital dalam pembiayaan perdagangan Hong Kong yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian kota tersebut.
“Nilai perdagangan barang Hong Kong pada 2024 mencapai tiga kali lipat dari PDB-nya. Namun, pembiayaan perdagangan justru mengalami penurunan. Digitalisasi, interoperabilitas data lintas negara, serta penguatan ekosistem pembiayaan menjadi kunci untuk menjaga daya saing Hong Kong,” ujarnya.
Di sektor keuangan hijau, Profesor Keuangan HKU Business School, Prof. Dragon Tang, menilai Hong Kong memiliki posisi strategis untuk memimpin integrasi teknologi blockchain. Ia mencontohkan penerbitan obligasi hijau bertokenisasi senilai HKD 6 miliar pada 2024 sebagai langkah pionir global.
“Ke depan, penguatan standar regulasi, infrastruktur blockchain, dan integrasi lintas negara sangat penting untuk meningkatkan transparansi, efisiensi, dan kepercayaan investor,” jelas Tang.
Green Paper ini juga menyoroti persoalan sosial, termasuk krisis keterjangkauan perumahan. Riset menunjukkan rasio harga rumah terhadap pendapatan di Hong Kong telah mencapai tingkat “sangat tidak terjangkau”, terutama bagi generasi muda. Selain itu, kepadatan di unit gawat darurat rumah sakit dinilai sebagai masalah struktural yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui penyesuaian tarif layanan.
Kajian lain dalam dokumen tersebut membahas dampak AI terhadap tenaga kerja, meningkatnya risiko kejahatan siber akibat generative AI, serta peluang dan tantangan pengembangan ekosistem Web 3.0 dengan pendekatan regulasi yang seimbang.
HKU Business School menyatakan Green Paper Kebijakan Ekonomi Hong Kong 2026 diharapkan dapat menjadi rujukan strategis bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan global.







