HONG KONG, SINKAP.info — Generasi muda di Asia kini semakin mengedepankan perencanaan keuangan yang matang dibandingkan gaya hidup spontan. Hal tersebut terungkap dalam studi terbaru Prudential plc bertajuk Financial Mindset of Young Adults in Asia, yang menyoroti perubahan cara pandang anak muda terhadap pengelolaan keuangan di tengah ketidakpastian global.
Riset tersebut menunjukkan bahwa 71 persen responden berusia 20–35 tahun lebih memilih perencanaan keuangan yang jelas dan terstruktur, sementara 69 persen tetap optimistis kondisi finansial mereka akan membaik dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.
Survei ini melibatkan lebih dari 5.300 responden dari tujuh negara Asia, yakni Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, dan Thailand, yang bertujuan memetakan sikap, preferensi, serta pengalaman generasi muda terhadap asuransi dan investasi.
Hasil studi juga mengungkapkan bahwa 63 persen anak muda Asia menilai hidup dalam ketidakpastian kini menjadi hal yang lumrah. Keamanan finansial menjadi kekhawatiran utama mereka (77 persen), mengungguli urusan keluarga, kesehatan, karier, dan pendidikan. Sekitar 60 persen responden mengaku lebih fokus pada masa depan ketimbang menikmati momen saat ini.
Meski demikian, optimisme tetap terjaga. Sebanyak 64 persen responden yakin memiliki dana yang cukup untuk masa pensiun. Dalam mengelola keuangan, 53 persen generasi muda memilih keseimbangan antara strategi investasi cerdas dan kebebasan menikmati hidup, sementara 62 persen menginginkan solusi keuangan yang fleksibel dan dapat menyesuaikan perubahan kebutuhan hidup.
Dari sisi profil risiko, generasi muda Asia cenderung moderat. Sebanyak 42 persen bersedia mengambil risiko tinggi demi imbal hasil lebih besar, sementara 40 persen memilih instrumen berisiko rendah seperti deposito. Hampir 60 persen responden menyukai instrumen investasi jangka panjang untuk pertumbuhan finansial berkelanjutan.
Chief Customer and Wealth Officer Prudential plc, Priscilla Ng, menyatakan bahwa generasi muda Asia tengah mendefinisikan ulang pendekatan terhadap keamanan finansial.
“Asia memiliki populasi muda yang besar, dengan usia median 32,5 tahun. Memahami cara pandang mereka memungkinkan kami menghadirkan solusi keuangan yang lebih sederhana, relevan, dan mudah diakses,” ujarnya.
Studi tersebut juga mencatat kecenderungan penggunaan pendekatan hibrida dalam pengelolaan keuangan. Sebanyak 61 persen responden merasa percaya diri mencari dan memilih produk keuangan secara mandiri melalui platform digital, sementara 54 persen nyaman mengelola portofolio sendiri. Namun, peran penasihat keuangan tetap penting, khususnya untuk asuransi jiwa dan kesehatan, serta dalam proses klaim dan pemahaman detail perlindungan.
Prudential menilai temuan ini menjadi sinyal penting bagi industri asuransi dan keuangan, mengingat generasi milenial dan Gen Z diproyeksikan mencakup sekitar setengah dari konsumen Asia-Pasifik pada 2030. Perusahaan pun didorong untuk menghadirkan produk dan layanan yang mengombinasikan teknologi digital dengan sentuhan manusia.
Studi Financial Mindset of Young Adults in Asia dilakukan secara daring pada Juli–Agustus 2025 dan memberikan gambaran komprehensif mengenai pola pikir finansial generasi muda di kawasan Asia.







