Otonomi Strategis Jadi Taruhan Eropa Hadapi Perubahan Tatanan Dunia

GLOBAL51 Dilihat

BEIJING, SINKAP.info – Di tengah perubahan geopolitik global yang kian dinamis, Eropa berada pada persimpangan penting untuk menentukan arah masa depannya. Dorongan menuju otonomi strategis semakin menguat seiring kebutuhan Eropa untuk menyesuaikan diri dengan realitas global baru, termasuk perubahan hubungan transatlantik dan meningkatnya peran kekuatan global lain.

Isu tersebut menjadi sorotan utama dalam laporan khusus CGTN bertajuk Europe on its Own Terms: Adapting a New Global Reality, yang menampilkan pandangan para pembuat kebijakan Eropa, pemikir strategis, serta pengamat internasional.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut situasi saat ini sebagai “momen kemerdekaan Eropa”, menekankan pentingnya kemampuan benua tersebut untuk menjamin pertahanannya sendiri. Sementara itu, CEO STRATEGA Hillary Mann Leverett menilai Eropa tengah menghadapi masa sulit dan membutuhkan kesabaran serta upaya besar untuk keluar dari berbagai krisis yang berlangsung.

Upaya menuju kemandirian didorong oleh berbagai tantangan, salah satunya krisis energi akibat konflik Ukraina. Lonjakan harga listrik di sejumlah negara ekonomi utama Eropa kini mencapai beberapa kali lipat dibandingkan Amerika Serikat, menekan sektor industri dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Di sisi lain, hubungan Eropa dan Amerika Serikat juga mengalami pergeseran. Senator Prancis Thierry Meissenmenyatakan bahwa Eropa harus menerima kenyataan bahwa Amerika Serikat akan lebih memprioritaskan kepentingannya sendiri. Pernyataan serupa disampaikan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa, yang mengakui bahwa Eropa dan Amerika Serikat tidak lagi memiliki visi yang sama terkait tatanan internasional.

MENARIK DIBACA:  211 Atlet Muda Asia Siap Berlaga di IFSC Youth Championship Guiyang 2025

Menanggapi kondisi tersebut, Uni Eropa mulai mengerahkan sumber daya besar untuk memperkuat kemandirian, khususnya di bidang pertahanan. Ursula von der Leyen mengungkapkan rencana yang memungkinkan investasi pertahanan hingga 800 miliar euro pada 2030. Lembaga pemikir Bruegel bahkan memperkirakan bahwa otonomi strategis sejati membutuhkan tambahan 250 miliar euro per tahun dan sekitar 300.000 personel militer. Perwakilan Tinggi UE untuk Urusan Luar Negeri Kaja Kallas juga menyoroti pentingnya pengadaan bersama sebagai tantangan utama.

Di tengah pergeseran strategi tersebut, Eropa juga aktif menjajaki kemitraan global yang lebih beragam. Mantan Perdana Menteri Italia Romano Prodi menekankan bahwa China dan Eropa bersama-sama menyumbang lebih dari sepertiga perdagangan dunia. Ia memperingatkan bahwa isolasi justru berpotensi membawa Eropa ke dalam kemunduran ekonomi.

Peluang kerja sama antara Eropa dan China dinilai terbuka luas, termasuk di bidang sains dan transisi hijau. Program Uni Eropa bertajuk Choose Europe senilai 500 juta euro untuk menarik talenta global dinilai membuka peluang baru, terutama di tengah ketidakpastian pendanaan riset di Amerika Serikat. Di sektor energi bersih, kepemimpinan China dalam industri energi terbarukan dinilai sejalan dengan ambisi European Green Deal.

MENARIK DIBACA:  Inovasi Teknologi Kaerney Dorong Daya Saing Asia Pasifik dalam Investasi Global

Namun, langkah ini bukan tanpa tantangan. Eropa dihadapkan pada dilema untuk menyeimbangkan hubungan historisnya dengan Amerika Serikat dan peluang kerja sama dengan China. Profesor Cui Hongjian dari Beijing Foreign Studies University menilai Uni Eropa berada dalam posisi sulit untuk membuat pilihan yang tegas. Presiden Kamar Dagang Uni Eropa di China Jens Eskelund pun menegaskan bahwa hubungan Eropa–China seharusnya dinilai berdasarkan kepentingan masing-masing, bukan dipengaruhi pihak ketiga.

Perubahan realitas ekonomi global juga turut memengaruhi perdebatan internal Eropa. Kemajuan pesat China memunculkan diskursus tentang kebijakan derisking yang dikhawatirkan dapat memecah rantai pasok global dan meningkatkan biaya. CEO Vivino Alex Frederiksen menilai pendekatan jangka panjang lebih dibutuhkan dibandingkan respons reaktif terhadap isu jangka pendek.

Pada akhirnya, para pemimpin Eropa dihadapkan pada pertanyaan strategis mendasar mengenai arah hubungan globalnya. Romano Prodi menilai relasi internasional ke depan perlu bergerak dari sekadar bukan musuh atau sekutu, menuju kemitraan yang setara dan saling menguntungkan.