Beranda TITIK TERANG Islam

Memaknai Idul Fitri

439
*Qosim Nurseha Dzulhadi

ISLAM, SINKAP.info – Idul Fitri diambil dari bahasa Arab عيد الفطر yang biasa diartikan dengan hari raya Idul Fitri. Dan makna Idul Fitri sangatlah dalam. Sangat meresap ke relung jiwa. Karena maknanya bisa ‘kembali ke fithrah’: suci, tanpa cela, tanpa dosa. Karena dosa-dosa orang berpuasa telah diampuni oleh Allah.

Bisa juga dimaknai dengan ‘kembali’ berbuka. Kata orang bule: breaking the fast; merusak Puasa. Artinya, tak lagi berpuasa. Karena makan, minum dan hubungan badan (bagi pasutri) tak lagi ditahan, tidak pula dolarang. Sudah boleh “dibuka” kembali. Padahal, sebelumnya harus “imsak”: menahan. Maka, bahagialah orang-orang yang berpuasa karena ketiga hal di atas kembali diperkenan oleh Allah.

Idul Fitri, hari raya fitrah dalam Islam memang memiliki corak dan warna yang sangat berbeda dengan hari raya agama manapun. Meskipun disebut ‘Hari Raya’ kelebihannya dapat dilihat dari dua titik penting, yaitu:

Pertama: shibghah rūhiyyah (celupan atau warna ruhiyah). Tetapi, ruhiyah yang tidak diam, tetapi dinamis. Ini dapat dilihat dari gema Takbir yang begitu kuat. Menggema di jalan-jalan; dari lisan-lisan kaum Muslimin yang tengah berjalan menuju tempat shalat Id (baik secara sendirian maupun beramai-ramai); di masjid-masjid; di lisan-lisan orang yang menanti ditegakkannya shalat Id; di rumah-rumah setelah melaksanakan shalat fardhu di hari-hari Tasyriq; di Mina; ketika melempar jumrah.

Gema Takbir ini memancar dari ruhiyah yang penuh kegembiraan usai menyempurnakan perjalanannya yang penuh dengan taufiq: perjalanan Puasa, atau perjalanan ibadah Haji. Dan, kegembiraan ini menyiratkan pandangan ke masa depan dengan penuh keyakinan dan harapan.

Takbir juga merupakan syiar kemenangan di pengalaman lalu (Puasa) dan sinyal berlanjutnya kemenangan spiritual di pengalaman-pengalaman berikutnya. Allahu Akbar wa Lillahi’l-Hamd!

Kedua: unsur ruhiyah tersebut mengharuskan kita menampilkan esensinya dalam bentuk perhiasan dan keindahan dalam suasana kesenangan jasmani. Tapi, ia tidak sampai pada bentuk yang berlebihan.

Sebelumnya, sikap penuh kesederhanaan disertai larangan menyertai ibadah Puasa dan Haji (di musim Haji). Maka, ketika datang Hari Raya maka tak dapat kita katakan bahwa telah dibebaskan apa yang sebelumnya diharamkan. Yang benar adalah: telah menjadi wajib apa yang sebelumnya diharamkan; dan telah diharamkan apa yang sebelumnya wajib.

Ya, saat ini tidak boleh Puasa dan tidak ada larangan untuk menikmati hal-hal yang baik (makan dan minum, misalnya). Kata Allah, “Makan dan minumlah kalian sebagai ganti untuk hari-hari kemarin yang telah kalian lalui.” (Qs. al-Hāqqah: 24).

Maka, setiap kita harus mengenakan pakaian yang indah, cantik dan menawan. Ini sebagai bentuk mensyiarkan karunia dan nikmat Allah. Karena, Idul Fitri adalah hari menampakkan nikmat-nikmat Allah.

Sahabat Nabi yang mulia, Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu bertutur: “Ketika Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam datang ke kota Madinah dan penduduk Madinah saat itu memiliki dua hari yang biasa bermain dan bersenang-senang di dalamnya. Lalu Nabi pun bertanya kepada mereka, “Ini hari apa?” Mereka menjawab, “Di masa Jahiliyyah kami biasa bermain dan bersenang-senang di dalamnya.” Lalu Nabi pun berkat, “Sungguh, Allah telah mengganti keduanya untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik dari dua hari ini: hari Idul Adha dan hari Fitri.” (HR. Abu Dawud). (Lihat, Dr. Muhammad Abdullah Darraz, as-Shaum: Tarbiyah wa Jihād (Kuwait: Dār al-Qalam, 1423 H/2003 M): 86-87).

Jadi, Idul Fitri, yaitu Hari Raya Fitri dalam Islam diapit dengan dua unsur istimewa: unsur spiritual dan unsur material. Nilai spiritualnya begitu tinggi dan sisi materinya penuh manfaat. Tidak norak. Tidak berlebihan. Karena kedua unsur ini merupakan bentuk syiar dalam agama mulia ini.

Selain itu, kedua unsur di atas disempurnakan dengan sisi sosial-kemanusiaan. Dengan nilai inilah kemudian umat menjadi “satu tubuh”, satu jasad, satu badan.

Itulah mengapa zakat disyariatkan di dalam Islam. Dan khusus di Idul Fitri, setiap insan Mukmin diharuskan mengeluarkan zakat fitrahnya: orangtua, anak-anak, laki-laki, perempuan, semuanya harus bayar zakat Fitrah.

Jika di Idul Fitri ada syariat zakat Fitrah, maka di Idul Adha ada syariat qurban. Ternyata, shalat saja tak cukup. Karena itu adalah kesalehan individual. Islam menyempurnakannya dengan kesalehan sosial: zakat Fitrah dan Qurban (Qs. al-Kautsar: 2).

Idul Fitri adalah momen penting dan istimewa dalam Islam. Ia hadir pasca Puasa Ramadhan. Dimana Allah inginkan hamba-hamba-Nya yang berpuasa kembali kepada kesucian (fitrah) dan kembali menikmati karunia-Nya yang sementara wakti di saat Puasa dilarangnya. Semoga kita kembali kepada fitrah dan mensyiarkan nikmat-nikmat Allah dengan cara mengenakan dan mengkonsumsinya menurut aturan Allah.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Taqabbalallahu minna wa minkum; shiyamana wa shiyamakum. Wallāhu a‘lamu bis-shawab.[] (Ahad malam, 1 Syawwal 1443 H/1 Mei 2022 M).

Facebook Comments