Beranda KOLOM Sastra Puasa Para Pemetik Bintang

Puasa Para Pemetik Bintang

102
Cerpen Naratif ditulis oleh Zaidan Akbar

SASTRA, Sinkap.infoSuasana subuh Jumat, suatu hari di tahun 1993. Subuh kali ini terasa dingin dan membuat orang-orang semakin manja dalam pelukan selimutnya, tapi tidak untuk seorang ibu rumah tangga yang bernama Munah, lengkapnya Maimunah.

Saat itu butir-butir embun masih bergantungan di ujung daun menyatu dalam pekatnya sejuk pada subuh ini. Munah tampak bergegas membangunkan ketiga orang anaknya yang masih terbuai oleh mimpi indah.

“Ainun! Hasan! Jamil! bangun! ayo sholat subuh! nanti keburu pagi, cepat! cepat bangun!” Munah membangunkan anaknya yang masih menggeliat dalam tidurnya.

“Iya Bu” jawab Ainun yang bangun duluan seraya turut membangunkan kedua adiknya yang masih tidur.

Hasan dan Jamil akhirnya bangkit juga dari tidur mereka. Keduanya terlihat mengucek-ngucek mata dan langsung menuju kamar mandi serta berwudhu untuk melaksanakan sholat subuh.

Sementara Munah sepertinya sedang merebus singkong untuk sarapan anak-anaknya sebelum berangkat sekolah. Hanya singkong-singkong inilah yang dapat Munah berikan kepada putra-putrinya sebagai pengganjal perut untuk hari ini sebab persediaan beras mereka telah habis kemarin.

Dengan berseragam sekolah lengkap, ketiga bocah tersebut makan singkong dengan lahapnya. mereka sarapan beralaskan tikar anyaman daun pandan yang terbentang di atas lantai papan rumah mereka. Disela makan pagi itu Munah berucap pada anaknya.

“Besok hari sabtu, kita puasa sunnat ya nak! jangan lupa nanti malam niat!”

“Ya buk,” jawab ketiga bocah itu serentak.

Setelah mencium tangan ibunya ketiga anak-anak itu berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki.

Rumah kecil mereka tampak tersudut di pojok dusun. Rumah warisan suaminya itu adalah saksi sejarah perjuangan Munah membesarkan anak-anaknya.

Sepasang mata Munah menatap lekat fhoto mendiang suaminya yang terpanjang di dinding rumah. Sejenak terlintas kembali kenangan masa lalu yang tersimpan di benak Munah. Ingatan lama itu membawa Munah pada suatu saat dimana ia tampak histeris setelah Munah mendapat kabar kematian suaminya di Malaysia karena sakit.

Suami Munah merantau ke Malaysia sebagai TKI yang bekerja di sebuah kilang pemotongan kayu dan sampai akhirnya sang suami meninggal di sana akibat sakit. Kesedihan Munah teramat dalam, terlebih lagi karena adanya permintaan saudara suaminya di Malaysia waktu agar sang suami di makamkan saja di negeri jiran tersebut. Munah tak dapat membantah, ia hanya bisa pasrah.

Tatapan bola mata Munah yang bergenang air itu terus saja lekat memandang fhoto suaminya. Meski peristiwa ini terjadi setahun yang lalu, namun mengenangnya membuat hati Munah sakit bagai terhimpit batu. Bagaimana tidak, semenjak itu hidup keluarga Munah semakin terpuruk. Ia hanya berjuang seorang diri membesarkan dan menghidupi ketiga anaknya. Masih untung Munah punya kepandaian membuat tikar anyaman pandan untuk dijual guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, walaupun semua itu memang jauh dari kata cukup.

Kini Munah hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia. Munah ingin mereka punya masa depan yang lebih baik, apalagi saat ini Ainun sudah kelas tiga SMP, sedangkan Hasan dan Jamil masing-masing kelas lima dan tiga SD.

Sementara di sekolah, Jamil bersama teman-teman sedang belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Seperti biasa guru bidang studi yang mengajar ini adalah Ibu Fadillah.

Dalam pelajaran ini mereka membahas tentang puasa-puasa sunnat. Lalu ibu guru bertanya pada siswa-siswi yang hadir di kelas itu.

“Anak-anak! ayo siapa yang tahu, hari-hari apa saja kita disunnahkan berpuasa?

Lalu Jamil tunjuk tangan untuk menjawab pertanyaan ibu gurunya.

“Ya, Jamil” suruh Fadillah untuk menjawab pertanyaan.

“Puasa sunnat itu hari senin, rabu, kamis dan sabtu Buk!” jawab Jamil dengan polos sambil menghitung jarinya.

Jawaban Jamil membuat siswa seisi ruangan tertawa terbahak-bahak termasuk Bu Fadillah.

“Jamil, biasanya puasa sunnat itu dilaksanakan pada hari senin dan kamis saja, tidak pada hari rabu dan sabtunya” Bu Fadillah mencoba meluruskan sambil cengar-cengir.

“Tapi Buk, Ibuku menyuruh kami untuk puasa sunnat setiap hari senin, rabu, kamis dan sabtu.

“Nanti kalau kak Ainun jadi melanjutkan sekolah SMA di Kabupaten maka kami juga puasa di hari minggu.

“Kami berbuka puasa hanya makan rebus ubi dan pisang. Kata Ibu, itu lebih bergizi dari pada nasi, di rumah kami jarang sekali ada beras untuk dimakan.” Jamil menjelaskan apa yang ia dengar dari ibunya.

Mendengar ucapan Jamil, senyuman Bu Fadillah berubah menjadi tatapan yang serius hingga ia menghela napas panjang dan mengalihkan pembahasannya serta berujar.

“Baiklah anak-anak, kita lanjutkan saja pelajaran kita, lihat buku kalian pada halaman tiga puluh sembilan, itu ada soal yang harus kalian kerjakan.

“Dan untuk Jamil, nanti selepas istirahat, temui Ibu di kantor, ibu ingin bicara berdua saja dengan Jamil ya nak!” tegas Fadillah pada Jamil.

Kemudian anak-anak mengerjakan apa yang diperintahkan oleh ibu gurunya tadi termasuk juga Jamal sampai terdengar lonceng petanda istirahat.

Sesuai dengan janji tadi kini Bu Fadillah berhadapan berdua saja bersama Jamil di ruangan kantor.

“Jamil! sekarang ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi di rumahmu?” tanya Bu Fadillah

Jamil hanya diam saja dan tak berkata apa-apa sambil tertunduk.

“Jamil! lihat ibu nak! berceritalah! ibu akan dengar” pinta Bu Fadillah.

“Ibu melarang ku memberitahu siapapun tentang apa yang terjadi di rumah kami buk, katanya kami tidak boleh merepotkan orang lain” ucap bocah polos itu.

“Ayo berceritalah! ibumu tak akan tahu,” kata Bu Fadillah.

“Tidak! aku tidak bisa melanggar larangan ibuku, tidak …!” tegas Jamil sambil beranjak pergi dan berlari keluar dari ruangan kantor itu.

“Jamil! Jamil … !” panggil Bu Fadillah

Namun Jamil sudah terlanjur pergi berlari dan keluar dari ruangan kantor tersebut.

Sementara di sisi lain Hasan nampak termenung seorang diri, Hasan selalu minder dari teman temanya. Hasan selalu di bully oleh teman-teman lantaran sepatunya yang koyak, baju yang lusuh dan ikat pinggangnya hari seutas tali plastik.

Teman-teman sering menjuluki sepatu Hasan dengan sebutan ‘Sepatu Buaya’ karena tampak koyak yang besar pada ujung sepatu itu membuat sebuah lobang yang menganga seperti mulut buaya dan juga ikat pinggangnya bagai ‘Sabuk Pendekar’. Kelakar-kelakar dari temannya inilah yang kadang membuat Hasan tak tahan mendengarnya.

Lain kisah Hasan dan Jamil lain pula cerita kakaknya Ainun. Ainun yang sudah kelas tiga SMP sedikit dapat memahami kondisi kehidupan mereka. Namun sebagai anak-anak tentu ia juga ingin seperti teman-temannya. Ainun terkadang terlihat melirik makanan-makanan yang ada di kantin. Aroma bakso dari kantin sekolah kerap membuat Ainun menelan liurnya sendiri. Tapi apa boleh buat, jangankan untuk jajan sedangkan biaya kebutuhan sekolah saja sering tak tercukupi.

Sesekali Ainun sering diajak Haryati, teman sebangkunya untuk jajan di kantin sekolah. Sebagai teman Haryati ingin mentraktir Ainun sahabatnya itu, namun Ainun selalu menolak ajakan Haryati. Ainun selalu memegang pesan dari ibunya agar tidak merepotkan orang lain.

Begitu pilu hari-hari yang dijalani oleh ketiga bersaudara itu di sekolah. Jangan tanya soal bully, kalau itu sudah cukup sering mereka terima. Lain lagi beberapa teman sekolah yang memperlakukan mereka dengan buruk dengan melontarkan kata-kata cacian dan hinaan pada mereka.

Siang ini, cahaya matahari terasa lebih hangat. Ainun dan kedua adiknya terlihat pulang sekolah berjalan kaki. Cukup jauh juga jarak yang mereka tempuh. Sesekali terlihat ketiganya menyeka keringat yang membuat kening mereka basah karena panasnya matahari.

MENARIK DIBACA:  Tangan Berlumur Corona

Di rumah, Munah terlihat menanti anak-anaknya. Ada sedikit nasi yang ia sediakan untuk mereka meski nasi yang sedikit itu hanya berkawan garam dan kecap saja sebagia lauknya. Itu semua dapat Munah hidangkan karena hari ini satu tikar anyamannya telah laku terjual.

Malam harinya, Ainun dan kedua adiknya terlihat sedang belajar. Serius sekali mereka belajar dengan bantuan penerangan yang seadanya. beberapa buah lampu teplok bergantungan di dinding sebab tak ada listrik di rumah mereka.

Sehabis belajar mereka langsung tidur agar nanti mereka lebih gampang bangun dini hari untuk sahur. Meskipun kali ini pasti seperti biasa yaitu sahur dengan beberapa buah pisang rebus dan air putih saja.

Hari ini hari sabtu, hari dimana keluarga Munah berpuasa sunnat sebagaimana biasanya, padahal tujuan puasa ini sebenarnya karena tak ada makanan lagi yang bisa dimakan di rumah.

Bagi Hasan, bully yang ia terima dari teman-teman sekolahnya sudah mulai menjebol benteng kesabarannya. Hasan merasa malu untuk hadir ke sekolah. Julukan ‘Sepatu Buaya’ itu selalu terngiang-ngiang di ujung telinga Hasan.

Hasan mulai sering bolos, ia mencoba bekerja mengumpulkan plastik bekas untuk dijual dan hasilnya untuk membeli sepatu baru dan ikat pinggang baru karena Hasan tak tahan lagi di bully teman-teman. Jamil tahu tingkah abangnya tapi Hasan meminta adiknya agar merahasiakan semua itu.

Pada suatu hari, Jamil terserang demam dan Munah mencoba keluar rumah untuk membeli obat demam buat Jamil. Sepulang dari situ, tanpa sengaja dan dari kejauhan, Munah melihat Hasan memikul karung. Hasan tampak sedang antri menjual barang plastik bekas kepada Pak Jafar sang pengepul barang bekas dan butut di kampung itu.

Terlihat dari kejauhan, air mata Munah mulai mengalir. Kecurigaannya selama ini ternyata benar bahwa selama ini Hasan tidak masuk sekolah malah Hasan bekerja sendiri mencari plastik bekas dan menjualnya.

Setibanya Munah di rumah, ternyata Ainun sudah pulang dari sekolah. Ainun membawa sepucuk surat dari sekolahnya Hasan. Sepucuk surat itu berisi sebuah pemberitahuan bahwa Hasan sudah seminggu tak masuk sekolah.

Tak lama Munah membaca surat itu lalu Hasan muncul mengucapkan salam. Di teras rumah itu Munah mulai memarahi Hasan karena tak masuk sekolah. Munah mulai hilang kesabaran dan memukul kaki Hasan dengan seutas rotan. Hasan pun menangis seraya meminta maaf dari ibunya. Sesekali terdengar juga alasan Hasan di sela tangisnya yang tersedu-sedu itu bahwa Hasan melakukan ini semua hanya untuk membeli sepatu dan ikat pinggang baru karena Hasan tak tahan lagi di bully oleh teman-teman di sekolahnya.

Selepas hukuman itu Hasan menangis dan berlari sampai ke pinggir sungai di tepi semak belukar. Hasan menjerit sekuatnya untuk melepaskan rasa penyesalannya. Lalu Ainun yang sejak tadi mengejar adiknya coba datang menghampiri. Ainun berucap pada Hasan adiknya.

“Hasan! apa kau marah pada ibu?
tanya Ainun pada adiknya.

Hasan menggelengkan kepalanya.

“Apa kau kecewa pada ibu?”

Hasan kembali menggelengkan kepalanya.

“Lalu apa kau malu punya ibu miskin seperti ibu kita?” tanya Ainun untuk ketiga kalinya pada Hasan

“Tidak Kak! hanya saja aku tak tahan lagi dibully oleh teman-teman, mereka selalu mengejekku karena sepatuku dan ikat pinggangku, makanya aku bekerja mengumpulkan uang,” ungkap Hasan menjelaskan alasannya.

“Hasan! lihat sepatu kakak dan sepatu Jamil lalu lihat ikat pinggang kakak dan juga ikat pinggang Jamil, kita tidak berbeda bukan? kita sama-sama memiliki sepatu buaya dan sama-sama punya ikat pinggang tali plastik. Kita sama sebab ibu kita sama.

“Mungkin kita tak punya sepatu dan ikat pinggang sebagus teman-teman kita, akan tetapi mereka belum tentu punya ibu sehebat ibu kita. Oleh karena kita punya ibu yang hebat maka kita harus bangga atas semua itu.” Ainun mengucapkannya dengan menatap Hasan yang bermandi air mata.

“Mari kita pulang dan minta maaflah pada ibu!” Saran Ainun pada adiknya.

Hasan mengangguk dan mereka berdua pulang bersama. Sesekali kedua saudara ini terlihat saling bersenda gurau.

Demam Jamil makin tinggi. Tubuhnya terasa semakin panas. Sementara Munah tampak bingung sekali sebab Munah tak tahu, mau kemana lagi ia mencari uang untuk membeli obat Demam anaknya itu. Di sela rasa gundah Munah itu, Lalu Hasan mengulurkan sejumlah uang yang ia kumpulkan berhari-hari kepada sang Ibu.

“Bu! Hasan punya sedikit uang, mungkin cukup membeli obat demam untuk Jamil, aku tak butuh sepatu dan ikat pinggang baru,” ucap Hasan pada ibunya.

Munah menatap Hasan. Mata Munah mengembun menampung air yang tergenang. Munah tak kuasa lagi. Ia langsung menarik tangan dan terus memeluk Hasan dengan tangisannya serta berkata.

“Maafkan ibu nak! karena ibu kalian ikut menangung semua beban ini.

“Hasan juga minta maaf ya Bu! telah menyusahkan ibu, mulai besok Hasan tak akan malu lagi ke sekolah,” kata Hasan pada ibunya.

Setelah Hasan tertidur. Munah melihat putri sulungnya Ainun sedang melamun. Ainun memandang bintang-bintang di langit sana. Kebetulan cuaca malam ini memang cerah.

Melihat Ainun termenung, Munah mendekatinya dengan duduk di samping Ainun.

“Ainun! kau sedang lihat apa nak?”
tanya ibunya pada Ainun

“Bintang Buk!, indahnya terlihat bintang-bintang itu ya Buk!” ucap Ainun sambil terus menatap langit malam itu.

“Ya Ainun, bintang malam ini sungguh indah seperti indahnya mimpi-mimpi ibu. mimpi yang ingin masa depan kalian secerah malam ini.”

“Ainun! sebentar lagi kau akan melanjut SMA di Kabupaten, jadi persiapkan dirimu, belajarlah yang rajin ya nak!” anjur Munah pada anaknya.

“Bu! Ainun tak ingin melanjut SMA di Kabupaten, Ainun mau di sini saja” ucap Ainun.

“Tapi bukankah itu impianmu sejak dulu, Ainun!” tanya ibunya.

“Ya! tapi bukankah itu berarti Ibu, Hasan dan Jamil akan menambah hari puasa sunnat satu hari lagi, seperti yang ibu katakan?” jawab Ainun

Munah langsung mendekap putrinya sambil berbisik di telinga Ainun.

“Ainun! apapun yang terjadi, kau harus melanjutkan SMA ke Kabupaten, ini penting untuk meraih cita-citamu, jangan kau hiraukan kami di sini, kita sudah terbiasa hidup seperti ini,” tegas ibunya.

Pelukan ini pertanda bahwa Munah sedang menguatkan hati dan mental Ainun untuk menjalani semuanya.

Suatu pagi yang indah telah membawa kesembuhan buat Jamil. Mereka bertiga bergegas berangkat ke sekolah, tapi kali ini ketiga bocah itu kurang semangat sebab hari ini adalah pengumuman peserta ujian. Ainun, Hasan dan Jamil cukup tahu diri mungkin mereka tak mengikuti ujian kenaikan kelas dan kelulusan ini karena mereka bertiga belum melunasi uang sekolah dan uang ujian.

Tapi apa yang terjadi? ternyata ketiganya masuk dalam daftar siswa yang berhak mengikuti ujian kenaikan kelas dan ujian kelulusan.

Ainun terperanjat melihat ini, Haryati tersenyum dan merangkul bahu Ainun lalu mereka berpelukan. Ainun tahu bahwa Haryati telah menjadi malaikat yang membantu membayarkan uang sekolah dan uang ujian Ainun. Kedua sahabat itu tampak saling menyayangi.

Lain pula Hasan, gurunya berkata bahwa uang sekolah dan uang ujian Hasan telah dibayarkan oleh pak Rasyid sang pengepul barang bekas sewaktu Hasan menjadi langganannya.

MENARIK DIBACA:  Rumah Kita Jendela Bambu

Di sisi lain, Jamil juga terlihat sumringah melihat namanya ada dalam daftar pengikut ujian. Rupanya Bu Fadillah yang berhati mulia itu, telah bersedia menanggung seluruh biaya uang sekolah dan uang ujiannya Jamil.

Sekarang ketiga bocah tersebut berhak mengikuti ujian kenaikan kelas bagi Hasan dan Jamil serta ujian kelulusan buat Ainun.

Tibalah masanya Ainun berangkat melanjutkan pendidikannya ke Kabupaten. Ainun berangkat sendirian tanpa diantar oleh ibunya.
Munah berpesan pada Ainun.

“Ainun! jangan takut, doa ibu selalu menyertaimu, kalau tak ada hal yang penting dan mendesak, jangan pulang, rajin belajar, berhematlah demi cita-citamu.

“Ainun, pergilah! jika nanti kau rindukan ibu, lihatlah bintang di malam hari. Semua mimpi-mimpi kita ada di situ. Andai kau tak melihat itu, pejamkan kedua matamu dan kau pasti akan menemui ibu dalam hatimu, tahan rasa rindumu karena kita berpisah dalam waktu yang lama.

“Ainun! bila suatu saat nanti kau berhasil meraih mimpimu, bantulah adik-adikmu untuk mewujudkan mimpi mereka.

“Apa kau paham maksud ibu?”

Kemudian Ainun terlihat hanya mengangguk saja sebagai tanda ia memahami maksud ibunya itu.

Sudah tiga tahun Ainun menuntut ilmu di Kabupaten, tak pernah sekalipun ia kembali. Tentu rindu pada Ibu dan kedua adiknya semakin bertumpuk dan menebal.

Ainun tetap melaksanakan puasa sunnat pada hari senin, rabu,kamis,sabtu dan minggu, artinya Ainun hanya makan siang dua hari saja dalam satu minggu. Semua ini Ainun lakukan agar ia merasakan apa yang dirasakan oleh Ibu dan adik-adiknya.

Sementara Munah kini selain penjual tikar anyaman, ia juga bekerja sebagai buruh cuci di rumah Pak Majid sang Kepala Desa.

Sampai pada suatu ketika, Munah sakit keras di kampung. Ainun langsung pulang untuk menjenguk ibunya. Mata Munah basah berair melihat putrinya itu sudah dewasa. Ainun memeluk ibunya untuk melepas rindu.

Munah berucap dengan terbata-bata pada Ainun.

“Ainun, anakku! mungkin sebentar lagi ibu akan pergi untuk selamanya karena ibu sudah begitu merindu ayahmu, ibu berharap tolong gantikan tugas ibu untuk menjaga dan melindungi adik-adikmu.

“Ainun! jangan pernah berhenti meraih impianmu sebab kau adalah jembatan buat adik-adikmu dalam menggapai cita-cita mereka.

“Ainun! selamat tinggal, titip Hasan dan Jamil tolong jaga mereka.”

Tak lama, terlihat tatapan Munah mulai kosong dan semu, napasnya hanya berhembus satu-satu, tenggorokan Munah mulai berbunyi dan setelah ucapan Kalimat Sahadat terakhir meski belum selesai Munah ucapkan, maka nampak Munah menarik napas panjang lalu ia hembuskan itu sebagai hembusan napas terakhirnya.

Tangisan pilu ketiga anak-anaknya terdengar riuh. Mereka mendekap jasad sang ibu seraya memanggil-manggil ibunya yang sudah tak bernyawa itu.

Hari berganti, sedikit demi sedikit waktu telah mampu membasuh luka. Sampai suatu ketika kecerdasan yang dimiliki oleh Ainun akhirnya membuat Ainun terpilih menjadi salah seorang yang berhak memperoleh beasiswa untuk kuliah di kota Bandung melalui Program Gerakan Nasional Orang Tua Asuh ( GNOTA ). Ainun dikuliahkan hingga lulus S-1. Gelar yang Ainun sandang adalah dokter. Ainun menjadi seorang dokter pada sebuah rumah sakit besar di Kota Bandung.

Dengan penghasilannya Ainun turut membantu biaya kuliah Hasan di sebuah Universitas di kota Jakarta sampai Hasan pun telah menjadi seorang sarjana. Hasan kini bekerja untuk sebuah perusahaan kontraktor karena Hasan adalah seorang insinyur. Dengan kejujuran yang Hasan miliki akhirnya Hasan dipercaya untuk memimpin sebuah perusahaan besar.

Lalu bagaimana Jamil, adik bungsu mereka juga mengikuti jejak Hasan di Jakarta. Kini Jamil lulus sebagai Sarjana Ekonomi. Jamil memilih merintis usahanya sendiri sebagai pengusaha properti.

Sudah sepuluh tahun semenjak Ibu mereka wafat, namun doa-doa mereka tak pernah luput untuk ayah dan ibu mereka. doa itu terlantun dalam setiap sholat-sholat mereka.

Ainun baru saja menikah, suaminya juga seorang dokter spesialis. Mereka berdua punya hobi yang sama yaitu sebagai pemerhati sosial.

Sesuai dengan pesan ibunya yang selalu mereka ingat.

[“Tetaplah menjadi bintang yang menyinari hidup orang lain, bantulah orang lain dengan kemapuanmu, karena saat kau bisa berbagi untuk meringankan derita mereka, maka disitulah letak kebahagiaanmu yang sesungguhnya”]

Kata-kata ibunya itu menjadi motivasi buat hidup Ainun, Hasan dan Jamil. hal ini juga mereka buktikan. Ainun membangun panti Asuhan untuk menampung ribuan anak yatim piatu, Hasan senang memberikan beasiswa bagi anak-anak yang kurang mampu dan Hasan juga memiliki sebuah Universitas di mana ia sebagai kepala Yayasannya. Sementara Jamil membangun perumahan layak tinggal khusus untuk orang-orang yang tidak mampu dengan gratis dan juga Jamil sering diundang sebagai motivator di sebuah acara-acara formal namun Jamil tak mau dibayar.

Hingga suatu ketika, di tiga tempat yang berbeda, maka Ainun, Hasan dan Jamil melakukan kegiatan-kegiatan sosial.

Ainun dan suami bergegas untuk menghadiri peresmian ruang baru panti asuhan mereka. di tengah perjalanan, mobil mereka berhenti setelah melihat orang berkerumun di tepi jalan saat melihat seorang bayi yang dibuang oleh ibunya, maka Ainun dan suaminya mengambil bayi tersebut lalu mereka bawa ke panti asuhan mereka.

Hasan kali ini mengunjungi sebuah sekolah. Beberapa waktu yang lalu, Hasan telah meluncurkan bantuan untuk membangun gedung baru kepada sekolah tersebut. Setelah berbincang-bincang dengan kepala sekolah, Hasan ke luar ruangan kepala sekolah melihat lingkungan sekitar, tanpa sengaja Hasan melihat seorang anak sedang dihukum dengan berdiri sambil menghadap tiang bendera.

“Anak itu kenapa Pak?” tanya Hasan kepada Kepala Sekolah

“Anak itu tidak disiplin Pak, lihat sepatunya koyak bolong begitu, seperti mulut buaya, bajunya juga koyak di bahunya hingga simbol sekolah juga terlepas,” jawab Kepala Sekolah itu.

“Apakah disiplin itu harus seragam?” tanya Hasan lagi

“Ya Pak, memang begitu sudah peraturannya,” tegas Kepala Sekolah.

Lalu Hasan memanggil anak yang dihukum itu dan bertanya.

“Siapa namamu nak! dan apa pekerjaan ayahmu?”

“Namaku Amaruddin Pak! Ayahku sudah lama meninggal. Ibuku hanya bekerja sebagai pembuat atap rumbia,” papar bocah itu.

Mendengar bocah ini bicara, mata Hasan berair dan kemudian Hasan berkata kepada Kepala Sekolah.

“Pak, aku memang tak berhak untuk mencampuri kebijakan sekolah ini, tapi aku ingin tegaskan pada kalian di sini, tolong jangan hukum siswa karena kemiskinannya, hukumlah jika ia berbuat salah bukan karena ia miskin, atau aku tidak akan lagi mengucurkan bantuan untuk sekolah mu ini.”

Sementara Jamil sebagai pengusaha dan motivator tengah hadir dalam acara launching buku terbarunya. Buku itu berjudul ‘PUASA PARA PEMETIK BINTANG’.

Pada suatu hari, terlihat Ainun, Hasan dan Jamil yaitu tiga bocah yang dulu telah melalui pahitnya hidup. Mereka pulang ketanah kelahiran mereka bersama-sama untuk ziarah ke makam ibunya. Dalam ziarahnya Ainun berujar

“Terima kasih ibu, terimakasih atas semua yang telah kau ajarkan pada kami, terimakasih karena sudah menjadi pahlawan bagi kami, pesan-pesanmu akan selalu kami ingat dalam setiap langkah kami.

“Selamat tinggal Ibu, damailah terus dalam tidur panjangmu.”

Pusara sang Ibu kini penuh dengan bunga, aromanya wangi semerbak dibawa udara ke setiap penjuru pemakaman dan mereka bertiga pergi meninggalkan pemakaman itu.*

SINKAP.info | oleh Zaidan Akbar

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here