Beranda DAERAH RIAU DR.Elviriadi: Tanpa Grand Design Cegah Covid 19, Korban Makin Berjatuhan

DR.Elviriadi: Tanpa Grand Design Cegah Covid 19, Korban Makin Berjatuhan

365
DR. Elviriadi Pendiri Gerakan Masa Depan Indonesia (GMDI)

PEKANBARU, Sinkap.infoPenerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terus digalakkan Pemerintah Kota Pekanbaru dan segera disusul Kabupaten-Kota di Riau. Langkah mengurangi penderitaan rakyat, dapur umum dibuka untuk distribusi makanan bagi warga yang tetap bekerja terdampak Covid-19. Selain itu mendekati bulan Suci Ramadhan gubernur Syamsuar telah mengeluarkan Surat Edaran agar tidak shalat tarawih di masjid.

Menyikapi pola penanganan Covid-19 di Indonesia khususnya Propinsi Riau, Tokoh Masyarakat Riau Dr. Elviriadi menyampaikan pandangannya kepada Sinkap.info melalui apilikasi Whatsapps massenger.

Akademisi itu menyarakan adanya grand design (rencana besar). “Ya, saya pikir harus ada grand design, kalau secebis secebis, nanti korban bisa berjatuhan,” ungkap tokoh muda kelahiran Selatpanjang kepada media ini, Senin (20/4) malam.

MENARIK DIBACA:  Pemerintah Labuhanbatu Berpartisipasi dalam Lomba Tatanan New Normal Covid-19

Aktivis Persaudaraan Muslim Indonesia (Parmusi) itu menjelaskan, Grand Design itu merupakan konvergensi dari dua strategi.

“Grand Design Covid-19 tersusun dari dua strategi yang konvergentif. Pertama, pembatasan sosial (social distancing) yang semakin diterima publik, kedua pemeriksaan (rapid test dan swap test) secara massif dan sigap,” beber aktivis Muhammadiyah itu.

Pengurus Majelis Nasional KAHMI itu menilai kedua stategi itu harus dilakukan dengan humanis dan kultural. “Jangan terkesan ada hegemoni negara yang timpang, seakan rakyat merasa terpaksa dan “latah”, tetapi rangkullah para tokoh non formal untuk membumikan agenda covid 19,” katanya.

Pendiri Gerakan Masa Depan Indonesia (GMDI) itu menambahkan, tanpa skenario agak panjang maka dikhawatirkan resources tim kerja Covid19 putus ditengah jalan.

MENARIK DIBACA:  Temui Kemendagri, M Adil: Tidak Ada Lagi Diskriminasi Khususnya Alokasi Dana

“Dalam struktur ekonomi pro kapitalis, bantuan sembako dan lembaran rupiah tidak cukup efektif, apalagi bila pandemi ini sampai berbulan bulan. Bisa ambrol dapur rakyat,” sindirnya.

Dosen yang sering menjadi saksi ahli persidangan itu meminta pemulihan pondasi ekonomi nasional sebagai solusi permanen. “Tapi yang saya dengar malah “bagi bagi kue” APBN?” Jadi grand designnya belang belang lah,” pungkas dosen yang istiqamah gunduli kepala demi nasib hutan.*

SINKAP.info | Editor: Mkh
Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here