SINKAP.info – Cita-cita baru terhadap pencapaian materi, sepenuhnya telah menguasai pemikiran modern. Dalam kemajuan materi jaman ini terhadap kecintaan belajar sangat kurang, juga tidak menunjukkan kecintaan terhadap agama. Naluri kelaparan benar-benar telah mencekam kehidupan manusia. Sekarang dimana-mana orang membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan peluang keberuntungan dalam penghasilan dan melupakan terhadap pengawasan agama bahwa aturan keberkahan bukan dengan cara menghalalkan segala cara. Dimasyarakat jarang sekali terdengar percakapan masalah yang menyangkut agama dan perhatian terhadap kemerosotan moral.

Manusia lebih mengedepankan dampak kemanfaatan bagi diri sendiri dan acuh tak acuh untuk memberikan kemanfaatan bagi manusia disekelilingnya. Sehingga timbullah kepentingan suatu tujuan untuk memanfaatkan atau dimanfaatkan orang lain, kebaikan seakan menjadi corak abu-abu antara pencitraan atau ketulusan.  Konsistensi menjadi manusia yang bermanfaat secara berkelanjutan merupakan visi Kenabian sesuai dengan sabda Nabi Suci Islam “Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang memberikan manfaat kepada orang lain” ditambah lagi dengan anjuran “Berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan”. Segala bentuk tindak tanduk manusia bukan hanya terbatas untuk kepentingan dunia yang memikirkan masa depan. Namun keimanan dan kepercayan menjadi manusia terbaik adalah investasi masa depan yang kekal selamanya, masa depan akhirat.

MENARIK DIBACA:  Al-Qur’an dan Sains Menjawab Kekeliruan Manusia: “Bulan Bercahaya dengan Sendirinya”

Kepercayaan dalam aturan agama semakin menipis dan terkikis oleh pemahaman materialism membuat kesadaran manusia berpura lupa untuk memisahkan antara yang Haq dan batil. Kristalisasi yang mengental dalam kehidupan sosial menjadikan nilai kekufuran melekat kepada manusia, tanpa habisnya akan haus terhadap pemenuhan kebutuhan dan kemewahan manusia menjadi kebebasan dalam berfikir dan bergerak ke jalan yang batil. Hakikat Nilai sukur menjadi kufur terhadap nikmat yang tak pernah ada ambang batasnya.

Sungguh disayangkan, berbagai pengaruh lingkaran setan yang sulit diputus mata rantainya hanya berpandangan terhadap kebiasan waktu untuk berfoya-foya pada kehidupan yang sementara. Kemegahan yang dipamerkan sejalan dengan pemborosan sehingga cara pandang zaman ini berdampak terhadap ketidakpedulian terhadap kemiskinan, penderitaan, kekurangan bahkan kelaparan.

Dua sisi ceriminan kehidupan masyarakat, para penguasa bersama koloni materialism menghabiskan hidupnya dengan kemewahan, disisi lain si miskin bertambah miskin dengan penghasilan yang tak seberapa dan tak mampu untuk membeli kebutuhan pokok kesehariannya. Kehidupan serba disulitkan oleh kaum kapitalism, memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan penindasan upah yang sekecil-kecilnya bagi masyarakat bawah. Banyak anak yang putus sekolah, terjebak kasus Narkoba, protitusi, perampokan, pembunuhan dan wabah penyakit keduniaan lainnya.

MENARIK DIBACA:  Kisah Inspiratif Jad, Mualaf Yahudi Masuk Islam dan MengIslamkan Jutaan Umat

Selama deretan rumah-rumah besar dan megah, berdiri disamping deretan pondok-pondok reyot, yang kelaparan dan kekurangan berdiri bersisian dengan yang kelebihan, maka pintu-pintu kaum elit koloni sang penguasa, komunism, dan materialism bersama kekuatan-kekuatan pengacau lainnya tidak pernah bisa ditutup. Tidak ada propaganda yang bagaimanapun keras dan meyakinkannya, dan tidak ada kekuatan yang seberapa kuat dapat menembus dan memperbaikinya. Hanya suatu system dengan segala kebajikan bisa dikembalikan pada manusia dengan amanah posisi sebagai penguasa, seorang yang mewah dengan kekayaannya, sekelompok gerakan manusia bersatu dalam satu tujuan pandangan investasi akhirat, kembali kepada kemurnian agama Islam memisahkan antara hak dan batil, memberikan manfaat dan menjauhkan mudarat kepada sesama manusia.

Kutipan Resume Terjemahan Islam and The World Karya Abul Hasan Ali Nadwi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here